Suasana silaturahmi Lebaran yang mulai mereda kerap menyisakan ruang bagi kenangan mendalam, termasuk ingatan tentang sosok-sosok inspiratif di lingkungan sekitar. Bagi warga di sekitar Masjid Jamiatul Islam, Manggar Baru, Kota Balikpapan, bulan suci selalu mengingatkan mereka pada almarhum Pak Salim.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Sejak tahun 1988 hingga 2020, Pak Salim mengabdi dengan peran ganda yang dijalani secara konsisten sebagai takmir, muazin, sekaligus marbot masjid. Di usianya yang sudah senja kala itu, ia mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk memakmurkan rumah ibadah tanpa mengharapkan imbalan materi.
Rutinitas harian Pak Salim selama bulan puasa sangat luar biasa karena ia hampir tidak memiliki waktu tidur yang cukup demi melayani warga. "Kalau sedang puasa, mungkin bisa dikatakan saya hampir tidak tidur," kenang beliau dalam sebuah wawancara semasa hidupnya.
Dengan pengeras suara masjid, suara khasnya yang kental dengan aksen Madura selalu setia membangunkan warga untuk sahur secara detail dan disiplin. Mulai dari tengah malam hingga batas waktu imsak, ia memastikan tidak ada warga yang terlewat untuk bangun dan bersiap menjalankan ibadah puasa.
Satu hal paling membekas dari sosok Pak Salim adalah keteguhannya menolak segala bentuk bayaran atas pengabdian panjang yang telah ia berikan. "Saya sendiri tidak menyumbang uang di masjid, masa malah mau diberi uang masjid? Saya malu," ucapnya dengan penuh keikhlasan sebelum wafat pada Juli 2021.