Di tengah semakin meningkatnya jumlah kaum terpelajar di Indonesia, baik dari institusi domestik maupun internasional, muncul sebuah pertanyaan mendalam. Mengapa mereka justru gagal menjadi agen perubahan sosial yang nyata di tengah dominasi oligarki politik dan ekonomi yang semakin menguat?
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Lebih dari enam dekade lalu, sejarawan Robert van Niel dalam bukunya berjudul "Munculnya Elite Modern Indonesia" menguraikan bagaimana kaum terdidik pribumi awal abad ke-20 lahir dari perubahan struktur sosial akibat Politik Etis. Pendidikan kala itu tidak hanya mencerdaskan secara teknis, tetapi menyulut kesadaran politik dan semangat kolektif.
Namun, lanskap hari ini telah berubah total. Era pasca-Perang Dingin ditandai oleh dominasi kapitalisme dan demokrasi liberal sebagai narasi tunggal, yang mengubah pendidikan menjadi sekadar investasi pribadi demi mobilitas sosial dan penguatan daya saing individual.
Etos pencapaian individu dan pencitraan diri kini menggeser semangat keberpihakan pada rakyat banyak. Bahkan, aktivisme sosial kerap kali telah dikomodifikasi menjadi proyek-proyek donor atau konten digital, membuat kesadaran ideologis sering kali dianggap kuno atau berbahaya.
Dalam sistem politik Indonesia yang dikendalikan oleh oligarki, banyak kaum terpelajar masuk ke dalam birokrasi bukan sebagai pembaharu, melainkan sebagai pemoles legitimasi teknokratik. Mereka terjebak dalam zona nyaman struktural dan memilih jalan aman ketimbang melakukan perlawanan kritis.
"Tanpa ideologi, pendidikan hanya melahirkan tenaga profesional, bukan pemimpin perubahan, sehingga kaum terpelajar berisiko menjadi pelestari sistem alih-alih penggugatnya," ujar sejumlah pengamat sosial menyoroti pergeseran peran intelektual masa kini.
Tantangan terbesar generasi terpelajar hari ini adalah keberanian untuk keluar dari jebakan individualisme dan mengembalikan fungsi pengetahuan sebagai alat pembebasan. Tanpa hal itu, kaum terdidik dikhawatirkan hanya menjadi teknokrat yang tersesat di tengah arus kapitalisme.