Raja Danjong yang memiliki nama personal Yi Hong-wi tercatat sebagai penguasa keenam dari Dinasti Joseon dan naik tahta pada usia 11 tahun pada tahun 1452 menyusul wafatnya sang ayah, King Munjong.
Masa kekuasaan Danjong tidak berlangsung lama karena tiga tahun kemudian ia dipaksa turun tahta oleh pamannya sendiri, Grand Prince Suyang, yang kemudian dikenal sebagai King Sejo dalam sejarah Korea.
Setelah dipaksa turun tahta dan diturunkan pangkatnya menjadi Pangeran Nosan, Danjong diasingkan ke daerah Cheongnyeongpo di Yeongwol sebelum akhirnya dieksekusi mati pada November 1457 di usia yang masih sangat muda yaitu 16 tahun.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKematian tragis tersebut menyisakan misteri dalam catatan sejarah resmi Dinasti Joseon, di mana berbagai sumber mencatat versi berbeda mulai dari bunuh diri hingga diracun atas perintah sang paman.
Pemulihan Nama Baik dan Warisan Sejarah Raja Danjong
Upaya pemulihan nama baik bagi sang mantan raja baru terwujud setelah 200 tahun berselang, tepatnya pada tahun 1698 di masa pemerintahan King Sukjong yang mengembalikan gelar kerajaan Danjong.
Kisah hidup Raja Danjong yang penuh tragedi ini kerap disamakan oleh para kritikus dengan kisah drama karya Shakespeare karena terus menggerakkan emosi lintas generasi di Korea Selatan.
Kepopuleran kisah hidupnya semakin melonjak tajam menyusul kesuksesan film layar lebar tahun 2026 berjudul The King's Warden yang mengangkat kisah pengasingannya dan memecahkan rekor box office.
Dampak dari kesuksesan film tersebut mendongkrak kunjungan wisatawan ke situs pengasingan Cheongnyeongpo hingga berlipat-lipat kali ganda dibandingkan tahun sebelumnya serta mendongkrak penjualan buku sejarah terkait.