Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Kritik Yang Terabaikan, Ketika...
BERITA

Kritik Yang Terabaikan, Ketika Program Karitas Berbenturan Dengan Realitas

By Bambang Prasetyo • 2 min read • 2026-07-20
Ilustrasi diskusi publik mengenai evaluasi program makan bergizi gratis

Ilustrasi diskusi publik mengenai evaluasi program makan bergizi gratis

Sebagaimana diwartakan, dinamika politik nasional kembali menghangat setelah kritik tajam dialamatkan kepada program makan bergizi gratis yang diusung oleh pemerintah. Sejumlah pihak menilai bahwa pelaksanaan program andalan tersebut masih menyimpan banyak pekerjaan rumah, mulai dari persoalan kualitas pangan hingga transparansi anggaran yang melibatkan pos pendidikan.

Menurut pernyataan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, berbagai masukan dan kritik yang disuarakan oleh masyarakat maupun partainya sering kali tidak didengarkan secara saksama oleh pengambil kebijakan. Hasto menyoroti bahwa pendekatan proyek yang terpusat berpotensi mengabaikan partisipasi warung-warung rakyat dan dapur lokal yang selama ini menjadi penggerak ekonomi di sekitar sekolah.

Namun di balik riuhnya perdebatan politik elektoral antara kubu pemerintah dan oposisi, sebuah pertanyaan mendasar yang bersifat filosofis justru mengemuka ke permukaan. Apakah sebuah program kesejahteraan yang dirancang dari atas ke bawah mampu benar-benar menghadirkan keadilan sosial, atau ia sekadar menjadi panggung bagi pertarungan legitimasi antar-elit kekuasaan.

Sebagaimana tercermin dalam benturan wacana tersebut, narasi resmi kerap menganggap kritik sebagai gangguan terhadap niat baik negara, sementara para pengkritik berfokus pada perbaikan teknis dan administratif semata. Kondisi ini melahirkan sebuah jalan buntu logis di mana ruang partisipasi murni bagi pekerja dan komunitas bawah justru tersingkirkan dari keputusan atas hidup mereka sendiri.

Bagaimana masyarakat dapat merebut kembali kedaulatan atas hak-hak dasar mereka ketika seluruh spektrum politik formal terjebak dalam model karitas birokratis yang menempatkan warga sebagai penonton pasif. Pertanyaan ini meninggalkan sebuah ketidakpastian yang produktif, menantang setiap kepala untuk terus merenungkan makna sejati dari kemandirian dan keadilan di tengah arus kebijakan populis.

Jurnalis Politik & Ekonomi Senior

Bambang telah menghabiskan dua dekade terakhir meliput dunia politik dan ekonomi Indonesia. Dari gedung DPR hingga Istana Negara, ia telah menyaksikan dan melaporkan peristiwa-peristiwa penting yang membentuk negeri ini. Tulisannya tajam, mendalam, dan selalu mengedepankan fakta serta analisis yang jernih bagi pembaca Kabayan News.