Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA bersama Katalyst Space resmi mengumumkan bahwa misi penyelamatan untuk mendongkrak ketinggian orbit teleskop ruang angkasa Swift Observatory mengalami kegagalan.
Pengumuman tersebut disampaikan pada hari Rabu setelah uji coba penggunaan wahana antariksa LINK mengalami kendala teknis terkait sistem kendali ketinggian di orbit rendah bumi, demikian penjelasan resmi dari pihak NASA dan Katalyst Space.
Wahana antariksa LINK sebelumnya dirancang khusus untuk mengangkat posisi orbit Neil Gehrels Swift Observatory milik NASA agar masa operasional teleskop tersebut dapat diperpanjang setelah meluncur pertama kali pada tahun 2004.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun misi penyelamatan ini tidak membuahkan hasil sesuai harapan awal akibat kendala teknis, NASA tetap menilai langkah tersebut sebagai sebuah upaya inovatif dalam menghadapi risiko tinggi di dunia eksplorasi luar angkasa.
Dampak Aktivitas Matahari pada Orbit Swift
Peningkatan aktivitas matahari secara signifikan telah memicu peluruhan orbit rendah bumi yang dialami oleh Swift Observatory dalam beberapa waktu terakhir, memaksa para ilmuwan mencari solusi cepat untuk menyelamatkan misi tersebut.
Teleskop ruang angkasa Swift sendiri awalnya direncanakan menjalani misi utama selama dua tahun untuk mempelajari ledakan sinar gamma, namun faktanya berhasil bertahan serta beroperasi di orbit selama 21 tahun penuh.
Wahana LINK yang diandalkan dalam misi penyelamatan ini dikembangkan dan diproduksi oleh Katalyst Space dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, menyusul kontrak senilai USD 30 juta yang diberikan oleh NASA pada tahun 2025 lalu.
Kegagalan misi penyelamatan ini membuat NASA memperkirakan bahwa teleskop Swift akan segera memasuki kembali atmosfer bumi pada tahun ini, mengakhiri rekam jejak panjang kontribusinya bagi dunia ilmu pengetahuan astrofisika.