NASA resmi membatalkan misi penyelamatan Neil Gehrels Swift Observatory setelah pesawat ruang angkasa Link mengalami kendala kendali yang serius di orbit pada Rabu, 19 Agustus 2026. Badan antariksa tersebut menyatakan bahwa pesawat Link tidak akan lagi mengangkat teleskop Swift ke orbit yang lebih tinggi seperti rencana awal.
Pesawat Link yang dikembangkan oleh Katalyst Space meluncur pada 3 Juli 2026 menggunakan roket Northrop Grumman Pegasus XL untuk memperpanjang usia operasional Swift yang telah mengorbit selama lebih dari 20 tahun sejak diluncurkan pada 20 November 2004. Namun, masalah pada reaction wheels dan sistem pendorong membuat pesawat tersebut mengalami rotasi tak terkendali di luar angkasa.
Meskipun upaya perbaikan sempat menurunkan kecepatan putaran pesawat dari 9 derajat per detik menjadi di bawah 4 derajat per detik pada 31 Juli 2026, masalah teknis yang persisten memaksa NASA menghentikan misi penyelamatan utama tersebut. Kendati demikian, Link tetap dijadwalkan melakukan uji coba rendezvous atau pendekatan untuk mengumpulkan data penting bagi misi servis satelit masa depan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeOrbit teleskop Swift sendiri saat ini meluruh lebih cepat dari perkiraan akibat peningkatan aktivitas matahari yang memperkuat hambatan atmosfer. Tanpa dorongan ke orbit lebih tinggi, NASA memperkirakan observatorium canggih yang bertugas mempelajari ledakan sinar gamma ini akan masuk kembali ke atmosfer dan terbakar habis pada akhir tahun 2026.
Peran Penting Teleskop Swift dalam Astronomi Modern
Neil Gehrels Swift Observatory memiliki peran krusial dalam dunia astronomi karena dirancang khusus untuk mempelajari gamma-ray bursts atau ledakan sinar gamma yang merupakan salah satu fenomena paling kuat di alam semesta. Teleskop ini dibekali dengan 3 instrumen utama untuk mengamati sinar gamma, sinar-X, ultraviolet, serta cahaya tampak secara simultan.
Keunggulan utama teleskop ini terletak pada kecepatan responnya yang mampu mendeteksi dan mengarahkan instrumennya dengan cepat ke sumber ledakan dalam hitungan detik. Kemampuan tersebut membantu para ilmuwan memahami berbagai peristiwa kosmik ekstrem, termasuk proses bintang meledak dan penggabungan bintang neutron.
Sejak beroperasi melampaui misi primer 2 tahun yang awalnya ditetapkan oleh NASA, teleskop ini telah menyumbangkan banyak data berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan antariksa modern selama lebih dari dua dekade penuh.
Kegagalan misi penyelamatan oleh pesawat Link menandai babak akhir bagi salah satu observatorium paling produktif milik NASA tersebut, sementara waktu bagi keberlangsungan teleskop Swift di orbit kini semakin menipis.