Neil Gehrels Swift Observatory menghadapi akhir hayat di orbit setelah Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) mengonfirmasi kegagalan penyelamatan teleskop bersejarah tersebut. Misi penyelamatan yang melibatkan perusahaan Katalyst Space Technologies dengan meluncurkan pesawat ruang angkasa Link pada Juli lalu terpaksa dihentikan akibat berbagai komplikasi teknis di orbit.
"Ini bukan hasil yang kami harapkan, namun hal tersebut tidak mengubah alasan mengapa misi ini layak untuk diperjuangkan," ujar Administrator NASA Jared Isaacman melalui pernyataan resmi pada Rabu, 20 Agustus 2026.
Diterbangkan pertama kali pada tahun 2004, teleskop luar angkasa Swift telah beroperasi selama 22 tahun untuk mengamati ledakan paling kuat di alam semesta, termasuk merekam ledakan sinar gama paling terang yang dijuluki BOAT pada 2022. Akan tetapi, peningkatan aktivitas angin surya dan tarikan gravitasi bumi membuat orbit teleskop tersebut meluruh secara drastis hingga mendekati titik akhir tanpa bisa dihindari.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeTim spesialis misi sebelumnya sempat merancang pesawat ruang angkasa bernama Link hanya dalam kurun waktu 9 bulan untuk menangkap dan mendorong Swift kembali ke ketinggian 373 mil di atas permukaan bumi. Sayangnya, rencana ambisius tersebut mulai menemui jalan buntu ketika pesawat Link mengalami putaran tak terkendali serta masalah posisi yang persisten di luar angkasa.
Pelajaran Berharga untuk Teleskop Hubble
"Kami menyadari bahwa ini adalah misi dengan risiko tinggi dan hasil yang besar, serta merupakan percobaan pertama kalinya yang dikembangkan dalam lini masa belum pernah terjadi sebelumnya," ucap Direktur Divisi Astrofisika NASA Shawn Domagal-Goldman.
Berdasarkan perhitungan terbaru, Neil Gehrels Swift Observatory diperkirakan akan mulai memasuki kembali atmosfer bumi pada Oktober 2026 tanpa menimbulkan ancaman bagi penduduk di permukaan bumi. Meskipun misi penyelamatan utama ini gagal, NASA dan Katalyst tetap akan mengarahkan pesawat Link untuk mengumpulkan data penting demi persiapan misi pemeliharaan satelit serupa di masa depan.
Kegagalan penyelamatan Neil Gehrels Swift Observatory memberikan pengalaman krusial bagi badan antariksa dalam menghadapi masalah peluruhan orbit satelit. Pengalaman dari misi ini rencananya akan dijadikan acuan penting untuk menyelamatkan teleskop legendaris lainnya yang juga mengalami masalah serupa akibat aktivitas matahari.
Teleskop Luar Angkasa Hubble yang telah beroperasi selama 36 tahun kini menghadapi masalah peluruhan orbit yang diperparah oleh cuaca ekstrem luar angkasa. Data dan teknologi dari misi Link diharapkan mampu diaplikasikan untuk memperpanjang usia operasional instrumen sains penting lainnya di masa mendatang.
"Kami semua tentu mengharapkan hasil sains lebih lanjut dari Swift, namun pembelajaran dari misi ini sangat berharga dan kami telah memperoleh banyak pencapaian hingga titik ini," tambah Shawn Domagal-Goldman.
Hingga saat ini, instrumen ilmiah pada Swift telah dimatikan sejak awal tahun 2026 untuk memperlambat penurunan, sementara para ilmuwan terus memantau pergerakan akhir satelit tersebut sebelum benar-benar terbakar di atmosfer.