Sebagaimana diwartakan oleh media internasional, panggung politik di Australia dihebohkan oleh keputusan mengejutkan dari seorang tokoh terkemuka masyarakat adat Yolŋu yang memilih untuk melepaskan jabatannya sebagai anggota parlemen daerah.
Yiŋiya Mark Guyula, yang telah lama dikenal sebagai figur vokal pembela hak-hak komunitas Aborigin di wilayah tersebut, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari Parlemen Northern Territory dengan efek segera.
Dalam pernyataan resminya, Guyula mengungkapkan rasa kekecewaannya yang mendalam terhadap pendekatan pemerintah yang dinilai kerap mengabaikan aspirasi masyarakat adat serta menjadikan kelompok marjinal sebagai komoditas demi kepentingan kelompok tertentu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Aboriginal communities are the political football that gets passed around with no real intention of working with our people to bring positive change for our communities," ungkap Guyula dalam pernyataannya sebagaimana dikutip dari laporan media.
Keputusan berat ini diambil menyusul serangkaian kebijakan dan undang-undang kontroversial yang digulirkan oleh pemerintah dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah kalangan pengamat hak asasi manusia menilai aturan-aturan baru tersebut cenderung regresif dan berdampak buruk terhadap tingkat penahanan warga pribumi.
Guyula, yang telah mengabdi memperjuangkan hak-hak konstituennya selama satu dekade terakhir, juga menyoroti kurangnya dialog yang setara antara pemerintah dan komunitas lokal. Ia menilai pemerintah kerap memaksakan kehendak tanpa membuka ruang kemitraan yang sejati bagi masyarakat adat.
"Kita dengan ramah menawarkan kemitraan, tetapi alih-alih diplomasi, pemerintah justru menginjak-injak kami," tegasnya menggambarkan situasi hubungan antara pihak pemerintah dan masyarakat adat saat ini.
Meskipun memutuskan untuk meninggalkan kursi parlemen, langkah politik Guyula menuai banyak apresiasi dari berbagai figur publik dan politikus lintas partai yang menghormati konsistensinya dalam memperjuangkan keadilan sosial.
Sejumlah tokoh menyampaikan dukungan moril serta meyakini bahwa perjuangan Guyula untuk membela masyarakat adat dari tanah kelahiran mereka tidak akan berhenti sekadar karena masa jabatannya di gedung legislatif telah usai.