Berdasarkan laporan media CartaCapital, sutradara asal Brazil Anita Leandro kembali menyoroti lembaran kelam sejarah negaranya melalui film dokumenter terbaru berjudul Anistia 79 yang resmi tayang pada hari Kamis, 20 Agustus 2026. Dalam karya terbarunya ini, ia mengeksplorasi kembali arsip visual bersejarah untuk membongkar bagaimana trauma dari masa pemerintahan militer masih membayangi kehidupan masyarakat Brazil hingga hari ini.
Sebelumnya, Anita sempat menggarap proyek serupa berjudul Retratos de Identificação pada tahun 2014 yang mengangkat kisah para penyintas masa lalu melalui koleksi foto lama. Melalui karya terbarunya, ia memilih menggunakan rekaman video dari Konferensi Internasional untuk Amnesti dan Kebebasan Demokrasi di Brazil yang dilangsungkan di gedung Senat Italia di Roma pada tahun 1979 silam.
Sebagaimana diwartakan, pertemuan di Roma tersebut merupakan momen bersejarah ketika para aktivis dan pejuang hak asasi manusia berkumpul untuk menolak upaya pemerintah yang berniat memberikan pengampunan hukum kepada para pelaku penyiksaan dari kalangan militer. Pertemuan ini digambarkan sebagai salah satu konsolidasi diaspora terbesar bagi para pelarian politik asal Brazil selama masa pengasingan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerjalanan penemuan arsip tersebut bermula ketika sang sutradara menemukannya di perpustakaan Universitas Nanterre di Prancis pada tahun 2015 lalu. Temuan itu mengantarkannya kepada Hamilton Lopes dos Santos selaku juru kamera asli yang merekam jalannya konferensi, sebelum akhirnya ia mewawancarai kembali para saksi hidup serta keluarga korban untuk merajut kembali memori kolektif yang sempat terabaikan.
Mengutip pernyataan Anita Leandro dalam wawancaranya, bahan arsip sejarah tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai ilustrasi pelengkap buku sejarah belaka. "Material arsip bukan sekadar ilustrasi, melainkan bentuk dan jejak sejarah itu sendiri yang harus dikembalikan kepada penonton dalam bentuk keasliannya," ungkap sang sineas menegaskan pentingnya nilai estetika dan etika dalam mengolah memori masa lalu.