Pemerintah Kota Bandung bergerak cepat menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak untuk membantu warga yang terdampak bencana longsor di RT 7 RW 1, Kelurahan Gegerkalong, Kecamatan Sukasari. Meskipun dilaporkan tidak ada korban jiwa, bencana tanah longsor tersebut mengakibatkan sedikitnya tiga unit rumah, satu masjid, dan satu madrasah ambruk.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Wakil Wali Kota Bandung Erwin menyatakan bahwa penanganan terhadap masyarakat terdampak langsung dilakukan melalui sinergi lintas instansi. "Kami coba atasi masyarakat yang di tiga rumah itu. Kami bantu dari Dinas Sosial, terus pembangunannya dari DPKP (Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman), dibantu juga dari Baznas, dan ada pihak swasta yang alhamdulillah mau kolaborasi untuk renovasi," ujar Erwin di Balai Kota Bandung, Jumat 17 Juli 2026.
Bencana longsor yang merobohkan lima bangunan tersebut diketahui terjadi pada Selasa 14 Juli 2026 lalu. Pasca-kejadian, Erwin langsung melakukan peninjauan ke lokasi bersama aparat kewilayahan serta instansi terkait di lingkungan Pemkot Bandung guna memetakan kerusakan dan kebutuhan warga.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, Erwin menyebutkan bahwa ambruknya sejumlah bangunan tersebut dipicu oleh kondisi fondasi yang sudah kurang kokoh untuk menopang struktur di lahan miring. Oleh karena itu, ia telah menginstruksikan Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi, dan Tata Ruang (Ciptabintar) Kota Bandung untuk merancang desain fondasi baru yang jauh lebih kuat.
"Kalau saluran airnya sih bagus, cuma saya lihat fondasinya saja enggak benar. Fondasinya itu kan di daerah yang memang curam, jadi sekarang ini lagi didesain oleh Dinas Ciptabintar supaya fondasinya kuat, supaya bagus," kata Erwin menjelaskan.
Lebih lanjut, Erwin memaparkan bahwa besi-besi pada struktur fondasi bangunan lama berukuran terlalu kecil dan tidak sesuai dengan standar spesifikasi bangunan, terutama untuk wilayah berkontur curam yang rawan pergeseran tanah. "Namun memang karena mungkin itu punya swasta atau masyarakat, bukan pemerintah," tuturnya.
Meskipun nihil korban jiwa, ambruknya ketiga rumah warga tersebut berdampak langsung terhadap sekitar tujuh kepala keluarga. Mengingat tingkat kerusakan yang sangat parah dan adanya risiko longsor susulan, para penghuni terpaksa harus diungsikan sementara ke tempat yang lebih aman.
Erwin menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat proses pemulihan fasilitas umum dan hunian warga ini, mengingat urgensi keberadaan tempat ibadah di wilayah tersebut. "Kondisinya parah, enggak akan bisa dipakai dulu, karena berisiko longsor kembali. Jadi ini harus diperbaiki dulu. Memang masyarakat meminta kepada kami supaya secepatnya membantu, apalagi masjid di daerah situ cuma satu-satunya," pungkasnya.