Perang watermark kecerdasan buatan memanas setelah Anthropic menyisipkan sinyal statistik tak kasat mata ke dalam setiap teks yang dihasilkan oleh Claude di seluruh dunia tanpa opsi pengecualian.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News, langkah ini diambil perusahaan pengembang tersebut untuk mematuhi aturan ketat dalam EU AI Act, namun menuai protes dari berbagai kalangan penulis dan penerbit.
Profesor etika AI Universitas Colorado Boulder Casey Fiesler menjelaskan bahwa deteksi positif hanya menunjukkan teks tersebut tersentuh oleh Claude, baik disunting maupun diparafrase, tanpa bisa merinci sejauh apa keterlibatan mesin tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebagaimana dilaporkan oleh Steven Rosenbaum dalam kolom medianya, situasi ini menciptakan dilema besar karena penulis sah yang menggunakan Claude sebatas alat bantu sunting justru berisiko terjebak tanda tangan digital tersebut.
Penulis buku terkemuka sekaligus petinggi Google Labs Steven Johnson menyatakan bahwa batas penggunaannya jelas, di mana ia memanfaatkan teknologi sebatas alat bantu riset dan penyusun informasi, bukan sebagai penulis utama naskah.
Direktur Utama The Atlantic Nicholas Thompson menambahkan bahwa penggunaan AI sah-sah saja untuk memeriksa kronologi penulisan, asalkan tidak ada satu pun kalimat mutlak hasil karangan mesin.
Mengutip analisis Kabayan News, kebijakan sepihak Anthropic justru berpotensi mengaburkan batas antara penulis jujur yang meninggalkan jejak sunting dan pihak curang yang sengaja membersihkan bukti penggunaan AI.