Nama mantan Menteri Dalam Negeri Turki, İdris Naim Şahin, mendadak kembali menjadi perbincangan hangat di kancah politik nasional setelah terseret dalam pusaran investigasi kriminal yang melibatkan organisasi kriminal Alihan Kuriş. Sebagaimana diwartakan oleh media setempat, sorotan publik tertuju kepada Şahin setelah kendaraan yang tercatat dialokasikan atas namanya hingga tahun 2030 kedapatan digunakan oleh para buronan untuk melarikan diri sebelum akhirnya diringkus di Marmaris.
Mengutip laporan media, İdris Naim Şahin lahir di distrik Ünye, Provinsi Ordu, pada 1 Juni 1956 dan menyelesaikan pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Istanbul pada tahun 1976. Perjalanan politiknya bermula sebagai salah satu anggota pendiri partai berkuasa, di mana ia sukses melangkah ke parlemen sebagai anggota majelis legislatif untuk periode ke-22, ke-23, dan ke-24 menyusul pemilihan umum yang digelar pada 3 November 2002.
Berdasarkan catatan kariernya, Şahin pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal antara tahun 2001 hingga 2011 sebelum dipercaya oleh Recep Tayyip Erdoğan untuk menduduki posisi strategis sebagai Menteri Dalam Negeri di Kabinet ke-61. Namun, posisi penting tersebut harus dilepaskannya pada perombakan kabinet yang berlangsung pada 24 Januari 2013, di mana kepemimpinannya kemudian digantikan oleh Muammer Güler.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDikutip dari catatan resmi, dinamika politik Şahin berlanjut ketika dirinya memutuskan untuk mengundurkan diri dari keanggotaan partainya pada 25 Desember 2013. Memasuki kontestasi politik lokal pada 31 Maret 2019, ia sempat diproyeksikan sebagai calon Wali Kota Metropolitan Ordu dari partai oposisi, namun rencana tersebut urung terwujud akibat kendala teknis waktu dan kecepatan pergerakan politik menurut penjelasan pengurus partai.
Kendati gagal maju melalui jalur partai tersebut, Şahin akhirnya tetap bertarung dalam bursa pemilihan kepala daerah dengan mengusung bendera partai lain dan berhasil meraup perolehan suara sebesar 26,1 persen untuk menempati posisi kedua. Dalam kehidupan pribadinya, tokoh politik senior yang kini kembali menuai kontroversi ini diketahui merupakan seorang suami dan ayah dari enam orang anak.