Roosseno Soerjohadikoesoemo merupakan insinyur sipil pribumi lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia teknik Indonesia. Lahir di Madiun pada tanggal 2 Agustus 1908, ia tumbuh menjadi sosok cendekiawan dan politikus ulung yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan infrastruktur nasional.
Perjalanan pendidikan Roosseno diwarnai kisah inspiratif ketika dirinya sukses memperbaiki mesin penggiling jalan saat bersekolah di AMS B. Motivasi dari sang guru membawanya melanjutkan studi teknik di Bandung pada tahun 1928 dan berhasil lulus dengan predikat cum laude di tengah dominasi mahasiswa kolonial.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKarier profesional Roosseno dimulai dengan mendirikan Biro Insinyur Roosseno dan Soekarno di Jalan Banceuy pada tahun 1933. Kiprahnya terus melesat hingga ia dipercaya menduduki kursi Menteri Pekerjaan Umum serta Menteri Perhubungan pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo I.
Sebagai seorang ahli konstruksi beton bertulang, Roosseno memimpin berbagai proyek strategis nasional mulai dari pembangunan jembatan hingga kompleks olahraga Senayan. Atas dedikasi luar biasa tersebut, pemerintah menganugerahinya gelar Bapak Beton Indonesia beserta berbagai tanda kehormatan.
Jejak Akademis dan Warisan Insinyur Roosseno di Indonesia
Dedikasi Roosseno dalam bidang pendidikan teknik tercatat melalui peran aktifnya sebagai guru besar di berbagai perguruan tinggi ternama. Ia menjadi profesor pribumi pertama di jurusan teknik sipil ITB serta turut mengusulkan pendirian Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Kontribusi keilmuannya dituangkan melalui puluhan karya tulis ilmiah dalam berbagai bahasa serta keterlibatannya dalam proyek pemugaran Candi Borobudur. Warisan pemikirannya terus hidup menginspirasi generasi insinyur muda melalui penamaan gedung riset modern di universitas terkemuka.
Semangat pantang menyerah yang ditunjukkan Roosseno semasa muda berhasil meruntuhkan stigma diskriminatif kolonial terhadap kaum pribumi di bidang ilmu pasti. Sosoknya dikenang bukan sekadar sebagai perancang struktur bangunan, melainkan pilar penting kemandirian teknik nasional.
Hingga akhir hayatnya pada tanggal 15 Juni 1996, Roosseno tetap aktif menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi kemajuan pembangunan fisik di Tanah Air. Kiprah panjang tersebut menempatkannya sebagai salah satu tokoh pembangun bangsa paling berpengaruh sepanjang sejarah.