Kecamatan Kebayoran Lama di Kota Administrasi Jakarta Selatan, DKI Jakarta, menyimpan sejarah panjang dari era kolonial hingga bertransformasi menjadi kawasan hunian elit dan pusat perdagangan modern yang strategis. Sebelum mengalami pemekaran wilayah pada dekade 1990-an, kawasan ini merupakan wilayah paling barat dari Kotamadya Jakarta Selatan sebelum sebagian wilayahnya dimekarkan menjadi Kecamatan Pesanggrahan.
Asal-usul nama wilayah ini konon berasal dari kata Bahasa Betawi kabayuran yang berarti tempat penimbunan kayu bayur atau pterospermum javanicum. Kayu bayur pada masa lampau sangat diminati karena terkenal kokoh serta tahan terhadap serangan rayap.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan catatan sejarah sebelum kemerdekaan Indonesia, Kebayoran dahulu merupakan sebuah distrik di bawah kepemimpinan seorang wedana yang menjadi bagian dari Kabupaten Meester Cornelis dengan cakupan wilayah hingga Ciputat. Pemerintah Hindia Belanda sempat merencanakan pembangunan lapangan terbang internasional di kawasan tersebut pada tahun 1938, namun rencana itu batal terwujud akibat Perang Dunia Kedua.
Pemerintah Indonesia kemudian mengembangkan sebagian wilayah tersebut menjadi Kebayoran Baru pada tahun 1969, sementara kawasan sekitarnya ditetapkan sebagai Kebayoran Lama. Seiring berjalannya waktu, wilayah ini kembali mengalami penyesuaian administratif melalui Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1990 yang memekarkan sebagian wilayahnya menjadi Kecamatan Pesanggrahan.
Perkembangan Kawasan Elit dan Pusat Perbelanjaan Modern
Kebayoran Lama membentang luas mulai dari kawasan Palmerah hingga ke selatan menuju Pasar Jumat di Taman Pahlawan. Wilayah ini kini dikenal luas sebagai salah satu pusat hunian mewah di ibu kota yang dipenuhi oleh kawasan real estate, perumahan eksklusif, apartemen, serta kondominium bertaraf internasional.
Kawasan Permata Hijau dan Pondok Indah menjadi simbol kemegahan di wilayah ini dengan deretan perumahan hijau yang tertata rapi di sepanjang jalan utama. Selain hunian kelas atas, kawasan ini juga diramaikan oleh berbagai pusat perbelanjaan terkemuka seperti ITC Permata Hijau hingga Pondok Indah Mall.
Berdasarkan data kependudukan terbaru, jumlah penduduk di kecamatan ini mencapai ratusan ribu jiwa dengan mayoritas penduduk memeluk agama Islam. Kehidupan multikultural tercermin dari keberadaan berbagai sarana ibadah seperti masjid, musala, gereja Protestan, gereja Katolik, dan vihara yang berdiri berdampingan.
Sektor perekonomian dan mobilitas warga turut ditopang oleh pasar tradisional di bawah naungan PD Pasar Jaya seperti Pasar Kebayoran Lama dan Pasar Cipulir. Kehadiran sarana transportasi modern seperti layanan ojek online, Jaklingko, serta akses jalan tol semakin melengkapi konektivitas wilayah strategis ini.