Dunia teknologi penyimpanan data sempat dihebohkan dengan kehadiran OpenIO, sebuah perusahaan penyedia layanan object storage yang dirancang khusus untuk menangani berbagai aplikasi berkinerja tinggi. Didirikan pada tahun 2015 oleh Laurent Denel selaku CEO bersama Jean-François Smigielski selaku CTO dan lima pendiri lainnya, perusahaan ini mengandalkan perangkat lunak open source yang pengembangannya bahkan sudah dimulai sejak tahun 2006 silam. Mengusung teknologi grid yang dinamis dan mendukung berbagai perangkat keras heterogen, perusahaan ini sempat mengamankan pendanaan senilai 5 juta dolar Amerika Serikat pada Oktober 2017.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Perjalanan OpenIO sebagai entitas independen akhirnya mencapai babak akhir pada Juli 2020 setelah diakuisisi oleh OVH. Langkah strategis tersebut membuat layanan ini ditarik dari pasaran bebas dan bertransformasi menjadi teknologi inti di balik infrastruktur penyimpanan objek OVHcloud. Kendati demikian, teknologi dasar yang diusungnya tetap mempertahankan fleksibilitas tinggi sebagai software-defined object store yang mendukung protokol S3 serta dapat diaplikasikan secara on-premises, berbasis cloud, maupun di edge menggunakan berbagai kombinasi perangkat keras.
Dari sisi teknis, sistem penyimpanan ini dirancang sejak awal untuk mengutamakan efisiensi biaya dan performa maksimal di berbagai skala, serta dioptimalkan untuk kebutuhan Big Data, High-Performance Computing, hingga kecerdasan buatan. OpenIO menggunakan struktur direktori terdistribusi secara masif dengan pendekatan flat, yang membuat jalur kueri data terbebas dari ketergantungan pada jumlah node. Desain arsitekturnya memastikan tidak ada titik kegagalan tunggal atau single point of failure, di mana setiap node baru dapat langsung terdeteksi secara otomatis tanpa perlu repot melakukan proses penyeimbangan ulang data.
Keunggulan performa OpenIO semakin terbukti ketika pada tahun 2019 mereka mengklaim berhasil mencatatkan rekor kecepatan tulis mencapai 1,372 Tbit/s atau setara dengan 171 GB/s menggunakan klaster berisi 350 mesin fisik. Pengujian yang dilakukan dalam skenario produksi nyata menggunakan server standar berbekal HDD 7200 rpm tersebut melibatkan pencadangan data lake Hadoop berukuran 38 petabayar melalui perintah DistCp. Pencapaian ini sekaligus menandai babak baru kehadiran teknologi object storage generasi mutakhir yang berorientasi pada skalabilitas ekstrem dan kinerja tingkat tinggi.