Pelukis Dullah merupakan maestro aliran realisme ternama di Indonesia yang pernah mengabdi sebagai pelukis serta kurator seni rupa istana pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno. Seniman kelahiran Surakarta tanggal 17 September 1919 tersebut berasal dari keluarga pembatik lokal.
Bakat melukisnya terasah setelah ia bergabung dengan kelompok Seniman Indonesia Moeda dan belajar langsung dari tokoh besar S. Sudjojonodan Affandi. Selama masa pendudukan Belanda di Yogyakarta, ia aktif mengabadikan berbagai peristiwa perjuangan bersejarah sehingga memperoleh julukan pelukis revolusioner.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerjalanan kariernya semakin bersinar manakala ia ditunjuk menjadi seniman dan kurator seni rupa istana pada tahun 1950 selama kurang lebih sepuluh tahun. Di samping melukis, ia turut berpartisipasi menyempurnakan rancangan Garuda Pancasila buatan Sultan Hamid II atas arahan Presiden Soekarno.
Sebagai seorang perupa produktif, ia telah menelurkan banyak karya monumental seperti lukisan Persiapan Gerilya tahun 1949 dan Istriku tahun 1953. Karya-karyanya tidak hanya menampilkan keindahan estetika tetapi juga merekam jejak sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Karya Legendaris dan Warisan Museum Dullah
Sang maestro menutup usia pada tanggal 1 Januari 1996 di RS Panti Rapih Yogyakarta dan dimakamkan di pemakaman umum Purwoloyo Surakarta. Guna mengenang dedikasinya, ratusan karya seni miliknya kini diabadikan secara khusus dalam Museum Dullah di kota kelahirannya.
Warisan seni sang maestro dapat dilihat melalui karya-karya luar biasa yang merefleksikan realitas sosial dan semangat nasionalisme tinggi. Salah satu mahakaryanya berjudul Persiapan Gerilya menggambarkan situasi detail kehidupan serta mental para pejuang kemerdekaan.
Selain karya bernuansa perjuangan, ia juga menciptakan lukisan Istriku pada tahun 1953 menggunakan cat minyak di atas kanvas dengan pendekatan romantis. Karya tersebut menonjolkan nilai-nilai humanisme serta kecantikan alam dan manusia sekitarnya.
Dedikasi panjangnya terhadap dunia seni rupa Indonesia diwujudkan pula lewat pendirian sanggar lukis di Pejeng Bali untuk membimbing para seniman muda setempat. Kontribusinya dalam dunia literasi seni dibuktikan melalui penerbitan buku katalog koleksi lukisan Presiden Soekarno.