Tati Saleh, yang terlahir dengan nama Raden Siti Hatijah di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1944, merupakan salah satu figur seniman multidimensional paling terkemuka di Indonesia. Beliau dikenal secara luas sebagai penari istana, penyanyi pop Sunda, juru kawih, juru tembang, aktris, serta penggubah tari yang mendedikasikan hidupnya untuk kebudayaan nusantara. Kontribusinya yang konsisten telah menempatkannya sebagai salah satu pilar penting dalam sejarah perkembangan seni pertunjukan tradisional maupun modern.
Sebagai seorang seniman lintas disiplin, Tati Saleh memiliki keahlian luar biasa yang mencakup penguasaan vokal dengan rentang suara mencapai empat setengah oktaf serta kepiawaian dalam dunia seni tari. Perjalanan kariernya membentang dari era penari istana pada tahun 1960-an hingga menjadi pelopor pembaharuan seni tradisi Sunda yang dapat diterima oleh berbagai kalangan masyarakat. Kiprahnya berhasil menjembatani khazanah karawitan klasik Sunda menuju era industri rekaman modern di Indonesia.
Latar belakang kehidupan beliau tidak dapat dipisahkan dari lingkungan keluarga seniman yang sangat mendukung perkembangan bakat seninya sejak usia dini. Ayahnya, Abdullah Saleh, adalah seorang seniman dan pejabat kebudayaan, sementara ibunya aktif sebagai pengajar seni tari dan tembang. Transmisi pengetahuan seni yang didapatkan secara langsung dari keluarga ini membentuk fondasi yang kuat bagi perjalanan kreatifnya di kemudian hari.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeArtikel profil ini mengulas secara mendalam mengenai latar belakang keluarga, riwayat pendidikan seni di Konservatori Karawitan, serta perjalanan karier cemerlang Tati Saleh dalam dunia musik dan tari. Uraian disusun secara sistematis guna memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai dedikasi dan warisan budaya yang ditinggalkan oleh sang maestro.
Latar Belakang dan Pendidikan Seni
Tati Saleh lahir di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1944 dari keluarga yang memiliki akar seni yang kuat di lingkungan masyarakat Sunda. Sejak usia lima tahun, beliau sudah akrab dengan alunan lagu-lagu kawih dan tembang yang dibawakan oleh para tokoh legendaris pada masanya seperti Upit Sarimanah, Titim Fatimah, dan Ibu Saodah. Pengalaman auditori di masa kecil ini membentuk kepekaan rasa seni serta fondasi vokal yang matang pada dirinya.
Memasuki usia remaja, tepatnya pada tahun 1959 saat duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Pertama, bakat seninya mulai mendapat pengakuan luas ketika dipercaya membawakan kidung untuk menyambut kunjungan kenegaraan Presiden Pakistan, Ayub Khan, di Bandung. Selepas menyelesaikan pendidikan tingkat menengah pertamanya, atas arahan sang ayah, beliau melanjutkan pendidikan formal di Konservatori Karawitan Bandung.
Di Konservatori Karawitan tersebut, Tati Saleh menimba ilmu secara intensif dan berguru langsung kepada sejumlah seniman terkemuka seperti R. Enoch Atmadibrata, Ono Lesmana, Mang Koko Koswara, Apung S. Wiratmaja, dan Mang Bakang Abubakar. Proses pendidikan formal dan non-formal ini memperdalam pemahamannya mengenai teori karawitan, teknik vokal tingkat lanjut, serta ragam disiplin seni tari tradisional Sunda secara mendalam.
Pengalaman awal yang diperoleh dari lingkungan keluarga dan institusi pendidikan seni membentuk transisi penting menuju karier profesionalnya di dunia hiburan. Beliau mulai dilibatkan dalam berbagai pementasan penting tingkat kenegaraan, termasuk menjadi penari istana pada era 1960-an bersama tokoh-tokoh besar seperti Indrawati Lukman dan Irawati Durban, yang semakin memantapkan posisinya sebagai seniman panggung terkemuka.
Karier Musik, Tari, dan Kontribusi Penting
Perjalanan karier Tati Saleh di dunia tarik suara ditandai dengan produktivitas tinggi dalam melahirkan karya rekaman lintas dekade dan genre. Pada dekade 1960-an hingga 1970-an, beliau mulai merilis album piringan hitam dan kaset bersama label-label rekaman terkemuka seperti Melody Records dan Remaco Record, termasuk berduet dengan Zainal Combo dalam singel populer Hariring Kuring dan Sieuh-Sieuh. Eksistensinya terus berlanjut melalui perilisan album Japin Sunda Pop pada tahun 1975 serta Dareuda Pop dan Torotot Heong pada tahun 1977.
Sebagai seorang penyanyi, beliau memiliki karakteristik vokal unik berupa rentang suara yang mencapai empat setengah oktaf, memungkinkannya membawakan berbagai genre dengan sempurna. Beliau konsisten merilis karya-karya inovatif seperti album Kacapi Keroncong pada tahun 1985, album degung bersama kelompok Gentra Madya seperti Sur-Ser pada tahun 1986 dan Rasa Deudeuh pada tahun 1992, hingga album eksperimental Pop Country Sunda pada tahun 1987 di bawah label SP Records.
Kontribusi penting Tati Saleh juga tercermin melalui karya-karya album selanjutnya yang memperkaya khazanah musik daerah, di antaranya Jamparing Asih pada tahun 1989, Lindeuk Japati pada tahun 1994, Degung Naon Lepatna pada tahun 2000, serta album Citarum pada tahun 2002. Melalui karya-karya tersebut, beliau membuktikan bahwa musik tradisional Sunda memiliki fleksibilitas tinggi untuk dipadukan dengan berbagai unsur musik modern tanpa kehilangan identitas aslinya.
Hingga akhir hayatnya, Tati Saleh dikenang sebagai maestro yang mendedikasikan seluruh hidupnya bagi perkembangan seni pertunjukan Indonesia. Peran gandanya sebagai penari istana, penggubah tari jaipongan, juru kawih, serta penyanyi multidimensional meninggalkan warisan kultural yang abadi dan menjadi inspirasi bagi generasi seniman muda penerus bangsa.