Ratusan warga di Roma terpaksa tidur di atas kasur darurat di trotoar jalanan yang dilanda gelombang panas ekstrem setelah gedung yang mereka tempati dikosongkan secara paksa. Aksi duduk ini dilakukan menyusul penyitaan yudisial atas gedung perkantoran bekas sitaan bernama Spin Time yang telah dihuni ratusan keluarga dari berbagai negara sejak tahun 2013.
Berdasarkan laporan di lapangan, evakuasi bermula dari insiden kebakaran kecil di lantai bawah gedung yang berhasil dipadamkan warga dalam hitungan menit tanpa menunggu petugas pemadam kebakaran. Kendati kerusakan tergolong minimal, pihak berwenang langsung menyatakan bangunan tidak layak huni hingga memicu polemik panjang bagi ratusan anak serta warga rentan yang kehilangan tempat berteduh.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSituasi kemanusiaan di lokasi unjuk rasa kian memprihatinkan setelah seorang anak balita dilaporkan sempat pingsan di tengah teriknya cuaca panas. Dukungan pun mengalir dari berbagai kalangan, termasuk surat solidaritas dari fisikawan peraih Nobel Giorgio Parisi yang mengecam ketimpangan sosial serta marjinalisasi warga di tengah kota.
Upaya penyelesaian sempat menemui titik terang ketika Wali Kota Roma mengumumkan rencana pembelian gedung dari perusahaan pengelola InvestiRE SGR agar warga dapat kembali masuk sementara proses transaksi berjalan. Namun, rencana tersebut kandas lantaran pihak pengelola menolak tawaran itu dengan alasan kondisi bangunan gagal memenuhi standar keselamatan pasca pendudukan bertahun-tahun.
Analisis awak media menunjukkan konflik ini mencerminkan benturan pelik antara kepentingan spekulasi properti mewah di kawasan perkotaan dan hak dasar atas hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pemerintah kota berjanji menyediakan akomodasi alternatif dalam waktu dekat, sementara para penghuni menegaskan akan terus bertahan di jalanan demi menuntut keadilan.