Piala Interkontinental 1993 menyajikan duel menarik antara wakil Eropa dan Amerika Selatan di Stadion Nasional Tokyo, 12 Desember 1993. AC Milan yang tampil sebagai runner-up Liga Champions 1992-93 harus berhadapan dengan Sao Paulo, juara bertahan Copa Libertadores yang sedang dalam performa terbaik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Marseille sejatinya adalah juara Liga Champions musim itu, namun klub asal Prancis tersebut tidak diizinkan berpartisipasi akibat skandal pengaturan skor di liga domestik. Sanksi tersebut membuat Marseille kehilangan gelar Ligue 1 dan dilarang tampil di kompetisi antarklub Eropa maupun dunia, sehingga Milan mendapat kesempatan tampil di Piala Interkontinental dan Piala Super Eropa.
Bagi Milan, ini merupakan penampilan kelima mereka di ajang ini setelah sukses meraih gelar pada 1969, 1989, dan 1990, serta sekali gagal di 1963. Sementara itu, Sao Paulo datang dengan status juara bertahan setelah menjuarai edisi sebelumnya dan berniat mempertahankan mahkota mereka.
Laga berjalan sengit sejak awal. Sao Paulo yang mengandalkan kecepatan dan kreativitas lini tengah berhasil menyulitkan pertahanan Milan yang dikawal oleh bintang-bintang seperti Franco Baresi dan Paolo Maldini. Gol-gol tercipta dari kedua kubu dalam pertandingan yang berjalan terbuka.
Toninho Cerezo menjadi bintang lapangan dengan penampilan apiknya di lini tengah. Gelandang veteran Brasil tersebut tidak hanya mengatur ritme permainan, tetapi juga berkontribusi dalam serangan dan membantu pertahanan saat dibutuhkan. Atas performanya, ia dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan.
Sao Paulo akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor 3-2, sekaligus mengukuhkan diri sebagai juara dunia antarklub untuk kedua kalinya secara beruntun. Kemenangan ini menjadi kebanggaan bagi sepak bola Brasil yang kala itu tengah mendominasi kompetisi antarbenua.
Kegagalan Marseille tampil membuka peluang bagi Milan, namun tim asuhan Fabio Capello tak mampu memanfaatkan kesempatan itu. Meski kalah, penampilan Milan tetap mendapat apresiasi karena mampu memberikan perlawanan sengit hingga peluit akhir dibunyikan.