Anthony Fauci kembali menghadapi panasnya gedung Capitol Hill pada Rabu (29/7). Namun kali ini mantan direktur NIAID itu memilih bungkam total di hadapan komite Senat yang dipimpin Senator Rand Paul dari Kentucky.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Fauci menginvokasi hak Amendemen Kelima terhadap self-incrimination lebih dari 100 kali dalam sidang tiga jam yang digelar untuk menyelidiki asal-usul pandemi COVID-19. Ini adalah drama terbaru dalam perseteruan panjang keduanya.
Saya menghormati cabang legislatif dan punya rekam jejak panjang kerja sama dengan Kongres. Namun atas saran pengacara, saya menggunakan hak di bawah Amendemen Kelima untuk menolak menjawab pertanyaan Anda, kata Fauci dalam pernyataan pembukaannya.
Fauci menilai Paul punya obsesi tak sehat dengan dirinya. Mantan pejabat publik yang populer di era pandemi itu menyebut Paul sudah berulang kali memfitnah dan baru-baru ini mempublikasikan diari pribadinya yang tidak diedaksi secara publik untuk mempermalukan dan mengintimidasinya.
Satu-satunya kesimpulan yang bisa saya tarik adalah satu-satunya alasan dia memanggil saya adalah untuk membuat saya mengatakan sesuatu yang bisa membenarkan janjinya bahwa saya harus berakhir di balik jeruji besi, tegas Fauci.
Senator Paul tak tinggal diam. Ia memperingatkan Fauci bahwa menolak bersaksi melanggar hukum karena menghalangi penyelidikan Kongres. Akan ada konsekuensi atas penolakan Anda, ancam Paul sambil menunjuk Fauci.
Ketegangan memuncak ketika David Schertler, pengacara Fauci, mencoba angkat bicara. Paul langsung memotong dan memerintahkan keamanan untuk mengeluarkan Schertler dari ruang sidang dengan perintah tegas, Duduk diam dan jangan ucapkan sepatah kata pun.
Schertler mengecam tindakan itu. Sungguh keterlaluan bagi Senator Paul untuk mengeluarkan kuasa hukum karena membuat argumen hukum yang sah. Ini membuktikan sifat sidang yang tidak berdasar dan balas dendam pribadi Rand Paul terhadap Fauci, ujar Schertler dalam pernyataan terpisah.
Perseteruan ini bukan baru kali ini. Pada 2021, keduanya terlibat debat sengit saat Paul menuduh Fauci berbohong kepada Kongres soal pendanaan pemerintah AS ke lab Wuhan. Anda tidak tahu apa yang Anda bicarakan, Senator, dan saya ingin mengatakannya secara resmi, sahut Fauci saat itu.
Paul selama ini konsisten mempromosikan teori kebocoran lab Wuhan dan menuduh Fauci menutup-nutupi bukti. Namun laporan intelijen AS sendiri tak pernah mencapai kesimpulan pasti tentang asal mula virus SARS-CoV-2.
Sidang kali ini dipicu oleh rilis diari Fauci oleh Paul pekan lalu. Lebih dari 1.100 halaman catatan tangan Fauci dari Desember 2019 hingga Desember 2022 serta 465 halaman lampiran berisi email dan dokumen sejak 2001 dipublikasikan. Bagaimana Paul mendapatkannya masih belum jelas.
Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. mengklaim kantornya menyerahkan materi tersebut. Butuh delapan bulan untuk menggali dari 11 server terpisah, kata Kennedy di Fox News.
Dalam diarinya, Fauci menggambarkan pergulatan batinnya sebagai wajah publik pandemi. Ia menulis tentang ketidaknyamanan dengan ketenaran yang meledak hingga terpajang di mug, donat, dan bantal bergambar dirinya. Saya sangat tidak suka ini, tulisnya.
Fauci juga menulis tentang interaksi pribadinya dengan Presiden Trump. Ia menyebut Trump menyakitkan saat bertele-tele dan menebarkan omong kosong dalam konferensi pers COVID-19. Hubungan keduanya memang memburuk seiring berjalannya pandemi.
Paul mengancam akan menggelar voting pekan depan untuk menjatuhkan hukuman contempt Congress terhadap Fauci. Senator itu berargumen kekhawatiran Fauci akan menjerat diri sendiri tidak berdasar karena mantan Presiden Joe Biden telah memberinya pengampunan preemptive pada 20 Januari 2025.
Biden memberikan pengampunan itu untuk melindungi Fauci dari investigasi bermotif politik yang tak berdasar. Namun pengampunan tersebut hanya berlaku untuk periode 11 tahun sebelum dikeluarkan, menyisakan celah yang dimanfaatkan Paul untuk terus menekan Fauci di hadapan hukum.