Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak baru yang semakin memanas. Berdasarkan laporan dari media terkemuka The New York Times, serangan udara yang dilancarkan oleh militer Iran terhadap pangkalan udara AS di Yordania dilaporkan telah menyebabkan kerusakan besar pada puluhan helikopter militer canggih milik armada paman sam.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut laporan tersebut, serangan udara intensif yang terjadi dalam lima hari terakhir ini menyasar Pangkalan Udara Pangeran Hassan yang terletak di wilayah timur Yordania. Lokasi tersebut diketahui menjadi tempat penempatan strategis bagi sejumlah helikopter UH-60 Black Hawk milik militer Amerika Serikat.
Pihak Iran dikabarkan berhasil merusak lebih dari 20 unit helikopter Black Hawk dalam operasi tersebut. Berdasarkan estimasi nilai aset, setiap unit helikopter ini memiliki harga sekitar 21 juta dolar AS atau setara dengan Rp 376,7 miliar, sehingga total kerugian material diperkirakan mencapai lebih dari 420 juta dolar AS atau setara Rp 7,5 triliun.
Dari pantauan redaksi terhadap laporan medis pasca-insiden, serangan ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi tetapi juga korban jiwa. Sedikitnya lima personel militer Amerika Serikat dilaporkan mengalami luka-luka, dan belakangan dikonfirmasi bahwa dua orang tentara AS dinyatakan tewas akibat serangan Iran tersebut.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan udara sejak awal Juli lalu. Presiden AS Donald Trump secara sepihak menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang sempat disepakati kini sudah tidak lagi berlaku.
Pemerintah AS juga menuduh pihak Teheran sengaja mengganggu jalur pelayaran komersial internasional di kawasan Selat Hormuz. Merespons tuduhan itu, pihak Teheran mengumumkan penutupan jalur pelayaran strategis tersebut hingga Washington menghentikan seluruh intervensi militernya di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, situasi ini menjadi antiklimaks karena ketegangan hebat justru kembali pecah hanya berselang sekitar tiga pekan setelah kedua belah pihak menandatangani nota kesepahaman formal yang awalnya bertujuan untuk meredakan konflik regional.
Di sisi lain, konflik ini mulai meluas ke wilayah sekitarnya setelah Kuwait Petroleum Corporation mengumumkan adanya fasilitas minyak penting mereka yang mengalami kerusakan akibat serangan dari Iran. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan bahwa target di Kuwait tersebut merupakan depot bahan bakar yang memasok kebutuhan logistik armada militer AS.