Sidang pembunuhan Lindsay Clancy di Massachusetts menghadirkan ketegangan ketika jaksa penuntut umum menyinggung pertanyaan tentang dosa besar kepada ibu mertua terdakwa guna membuktikan kesadaran atas perbuatannya pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Asisten Jaksa Wilayah Shanan Buckingham bertanya kepada Susan Clancy yang merupakan ibu mertua Lindsay Clancy sekaligus seorang Katolik taat, apakah dirinya mengetahui bahwa pembunuhan merupakan sebuah dosa besar dalam ajaran agama.
Pertanyaan tersebut diajukan untuk mematahkan argumen pihak pembela yang menyatakan bahwa Lindsay Clancy menderita postpartum psychosis atau psikosis pascapersalinan saat mencekik tiga buah hatinya yang berusia di bawah 6 tahun pada tahun 2023 silam.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeHakim William Sullivan langsung memerintahkan penghentian sidang sejenak atau sidebar dan menghapus pernyataan tersebut dari catatan resmi pengadilan karena tidak dijawab oleh saksi.
Kondisi Mental Lindsay Clancy Sebelum Kejadian
Dalam persidangan sebelumnya, pihak kejaksaan telah merampungkan pemaparan seluruh barang bukti dan keterangan saksi penuntut pada Senin pagi waktu setempat.
Susan Clancy memberikan kesaksian di hadapan juri bahwa dirinya sempat merasakan kekhawatiran mendalam terhadap kesehatan mental terdakwa menjelang akhir tahun 2022.
"Lindsay sedang berjuang. Kami semua sangat khawatir. Dia sangat mengayomi, sangat penuh kasih sayang. Dia adalah ibu yang luar biasa," ucap Susan Clancy saat bersaksi di hadapan juri.
Penurunan kesehatan mental Lindsay Clancy mulai terlihat sejak November 2022 ketika terdakwa mengeluhkan gejala insomnia parah, kehilangan nafsu makan, serta kecemasan berlebih.
Ibu kandung Lindsay Clancy yaitu Paula Musgrove juga mengonfirmasi kondisi serupa melalui pesan teks tertanggal 20 Oktober 2022 yang menunjukkan permintaan tolong karena merasa sangat ketakutan.
Tim kuasa hukum Lindsay Clancy dijadwalkan melanjutkan pembelaan pada Rabu pagi untuk meyakinkan juri bahwa terdakwa mengalami gangguan kejiwaan berat saat peristiwa tragis tersebut terjadi.