Studi terbaru dari Washington University School of Medicine di St. Louis mengungkap bahwa reaksi berlebihan anak terhadap rangsangan sensorik sehari-hari memiliki kaitan langsung dengan kondisi kesehatan mental seperti kecemasan dan autisme.
Berdasarkan analisis data melibatkan lebih dari 15.000 anak berusia 6 hingga 18 tahun, para peneliti menemukan bahwa respons sensorik berlebih tidak berkaitan secara langsung dengan gangguan attention deficit hyperactivity disorder atau ADHD.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Tantangan sensorik ini bukan sekadar anak-anak bertingkah sulit, melainkan perilaku berakar pada perbedaan neurologis spesifik," ujar penulis senior studi Rebecca Schwarzlose, asisten profesor psikiatri di WashU Medicine, sebagaimana dilaporkan.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News, fenomena tersebut selama ini sering disalahartikan sebagai bagian dari gejala autisme semata, padahal kondisi itu turut muncul pada anak tanpa autisme yang mengalami kecemasan.
Analisis pemindaian otak dari sebagian subjek penelitian menunjukkan bahwa masalah sensorik ringan berhubungan langsung dengan penurunan konektivitas antara jaringan memori otak dan struktur otak bagian dalam.
"Ketika hubungan itu lemah, informasi sensorik gagal terintegrasi dengan konteks sehingga suara biasa memicu respons defensif mentah," ujar penulis utama Christina Luo, mahasiswa pascasarjana di laboratorium Schwarzlose.
Dari analisis Kabayan News, temuan tersebut memberikan kejelasan klinis baru bagi tenaga medis dalam mendiagnosis serta merancang terapi okupasi tepat guna membantu anak mengatasi tekanan lingkungan sekitar.