Saham Ford Motor Company mencatat kenaikan sebesar 23 persen dalam kurun waktu 12 bulan terakhir di tengah ketatnya persaingan industri otomotif global dan fluktuasi kondisi makroekonomi yang menantang.
Meskipun harga saham sempat mengalami penurunan sekitar 12 persen dalam empat tahun terakhir berdasarkan data per 17 Agustus, minat investor kembali meningkat seiring dengan peluncuran lini bisnis baru Ford Energy.
Segmen bisnis baru yang diperkenalkan pada Mei tersebut difokuskan untuk menjual sistem baterai kepada berbagai pelanggan guna memanfaatkan lonjakan permintaan penyimpanan jaringan listrik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDi sisi lain, tantangan operasional masa lalu termasuk kerugian besar dari divisi kendaraan listrik Model e senilai USD 9.9 miliar pada periode 2024 hingga 2025 menjadi sorotan para analis pasar.
Tantangan Kinerja Keuangan dan Valuasi Saham
CEO Ford Jim Farley sempat menyatakan perusahaan melakukan penyesuaian strategi senilai USD 19.5 miliar pada Desember 2025 demi mengalihkan modal ke peluang pertumbuhan dengan imbal hasil lebih tinggi.
Pengeluaran modal atau capex perusahaan tercatat mencapai USD 81 miliar sepanjang rentang waktu 2015 hingga 2025, sementara pendapatan otomotif hanya meningkat sebesar 23.8 persen atau setara USD 33 miliar.
Berdasarkan proyeksi Morgan Stanley, segmen Ford Energy diperkirakan mampu menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT tahunan sebesar USD 500 juta hingga USD 600 juta pada skala penuh.
Dengan rasio price-to-earnings berjangka di level 8, para pengamat pasar terus memantau apakah perusahaan dapat mempertahankan momentum positif untuk mencapai target jangka panjang.