Indeks acuan ekuitas Sensex dan Nifty melemah pada perdagangan hari Rabu akibat tekanan kenaikan harga minyak mentah global serta sentimen negatif dari pasar Wall Street. Berdasarkan laporan Outlook Business, pergerakan pasar saham mengalami koreksi di sesi awal perdagangan karena investor merespons lonjakan harga komoditas energi tersebut.
Indeks 30 saham BSE Sensex terkoreksi 35,99 poin ke level 78.097,31 pada awal perdagangan. Sementara itu, indeks 50 saham NSE Nifty susut 31,15 poin ke posisi 24.444.55. Tekanan jual berlanjut hingga bursa mencatatkan pelemahan lebih dalam dengan Sensex merosot 211,37 poin ke level 77.953,66 dan Nifty tergerus 65,10 poin ke 24.411,15.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSejumlah saham unggulan dari kelompok Sensex seperti Bharti Airtel, Mahindra & Mahindra, UltraTech Cement, Adani Ports, Titan, dan Bajaj Finance masuk dalam jajaran pemberat bursa. Sebaliknya, State Bank of India, Tech Mahindra, Axis Bank, dan Asian Paints justru mencatatkan penguatan di tengah tekanan pasar.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News, penguatan harga minyak mentah dunia menjadi katalis utama penahan laju bursa. Patokan minyak mentah global, Brent crude, menguat 1,24 persen ke level $90,01 per barel. Analis menilai kenaikan komoditas energi ini memicu kehati-hatian investor dalam mengambil keputusan investasi.
Kepala Strategi Investasi Geojit Investments Limited, VK Vijayakumar, menyatakan bahwa pasar saat ini bergerak menyamping dan tertahan aksi breakout sisi atas. "Faktor utama penahan laju reli adalah penguatan minyak mentah Brent yang kembali bergerak di atas level $89," ujarnya dikutip dari Outlook Business.
Dari bursa regional Asia, pergerakan bursa terpantau bervariasi di tengah sentimen global. KOSPI Korea Selatan melonjak 4,59 persen, Nikkei 225 Jepang serta SSE Composite Shanghai turut menghijau, sementara Hang Seng Hong Kong bergerak di zona merah menyusul pelemahan bursa Wall Street sehari sebelumnya.
CEO Enrich Money, Ponmudi R, menambahkan bahwa investor cenderung bersikap konservatif menanti rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat. "Keterangan dari Wall Street menunjukkan penurunan pada indeks utama akibat kehati-hatian pelaku pasar menanti data inflasi AS serta ketegangan geopolitik yang masih berlangsung," jelasnya sebagaimana dilaporkan media.
Di sisi lain, data bursa menunjukkan aktivitas investor asing masih mencatatkan pembelian bersih. Berdasarkan catatan transaksi hari Selasa, Foreign Institutional Investors (FIIs) membukukan aksi beli ekuitas senilai ₹258,55 crore yang memberikan sedikit bantalan bagi pasar domestik.