Kabar gembira datang bagi konsumen Walmart. Ritel raksasa asal Amerika Serikat ini berjanji akan melakukan pemotongan harga di gerai mereka menyusul suntikan dana segar dari pemerintah federal.
Sebagaimana dilaporkan oleh CNN Business, Walmart baru saja menerima pengembalian dana tarif sebesar US$ 2,9 miliar atau sekitar Rp 45 triliun. Dana fantastis ini merupakan bagian dari pengembalian atas tarif impor yang dibayarkan perusahaan pada periode 2025 hingga awal 2026.
Keputusan untuk menurunkan harga diambil sebagai strategi perusahaan untuk merangsang kembali belanja konsumen. CFO Walmart, John David Rainey, mengungkapkan bahwa perusahaan merasakan adanya tekanan ekonomi yang membuat masyarakat lebih selektif dalam berbelanja.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Kami melihat adanya tekanan tambahan pada konsumen dibandingkan awal tahun ini akibat kenaikan harga bahan bakar," ujar Rainey dalam sebuah pertemuan dengan investor seperti dikutip dari laporan media.
Berdasarkan laporan tersebut, harga bahan bakar yang menembus di atas US$ 4 per galon memberikan dampak psikologis signifikan bagi warga Amerika. Hal ini tercermin dari melambatnya pertumbuhan penjualan di toko fisik Walmart yang hanya mencapai 2,6 persen pada kuartal lalu, angka terendah sejak awal pandemi.
Selain Walmart, sejumlah perusahaan besar lainnya juga menerima pengembalian tarif serupa dari pemerintah AS. Target melaporkan menerima refund sebesar US$ 994 juta, sementara Home Depot mendapatkan US$ 730 juta.
Kebijakan pengembalian dana ini merupakan tindak lanjut dari putusan Mahkamah Agung AS pada Februari lalu yang menyatakan bahwa kebijakan tarif besar-besaran era Presiden Donald Trump tidak sah secara hukum. Hingga akhir Juli, pemerintah AS tercatat telah mendistribusikan sekitar US$ 100 miliar kepada ribuan importir.