Kabayan News Kabayan News
/home / ekonomi / Dilema Bisnis Daur Ulang Baterai...
EKONOMI

Dilema Bisnis Daur Ulang Baterai Mobil Listrik, Mulai Jadi Beban

Pekerja di Everett Auto Parts mempersiapkan baterai Chevy Volt untuk dikirim ke tempat daur ulang.

Pekerja di Everett Auto Parts mempersiapkan baterai Chevy Volt untuk dikirim ke tempat daur ulang.

Di sebuah pagi yang terik di awal Juli, Thomas Andrade, salah satu pemilik Everett Auto Parts di Massachusetts, mengawasi para pekerja yang sedang mengikat dua baterai hibrida Chevy Volt ke sebuah palet. Baterai-baterai tersebut siap dikirim untuk didaur ulang. Menjual suku cadang kendaraan yang berharga adalah cara utama tempat barang rongsokan (salvage yard) menghasilkan uang. Baterai ini sebenarnya penuh dengan mineral berharga seperti nikel, kobalt, mangan, dan litium yang bisa diolah kembali menjadi "black mass".

Namun, berapa banyak uang yang dihasilkan Andrade dari transaksi ini? Jawabannya adalah nol besar. "Hal baiknya adalah mereka setidaknya mau menerima baterai ini tanpa biaya," kata Andrade mengenai pihak pendaur ulang baterai. Kenyataan bahwa Andrade merasa senang meski tidak menghasilkan uang sama sekali menunjukkan adanya masalah besar bagi industri daur ulang kendaraan maupun masyarakat luas.

Sangat penting untuk mendaur ulang baterai EV karena jika diperlakukan seperti sampah biasa, mereka akan menjadi limbah berbahaya yang berisiko mengalami kebocoran racun atau kebakaran hebat. Membuangnya begitu saja juga menyia-nyiakan mineral kritis yang bisa mengurangi ketergantungan Amerika Serikat terhadap pasokan China. Sayangnya, perhitungan matematis untuk daur ulang baterai EV saat ini sering kali tidak menguntungkan.

Kondisi serupa dialami Brian Bachand, CEO Westover Salvage Yard. Dia memiliki baterai Tesla seukuran kasur yang masih berfungsi dengan baik. Bachand memperkirakan baterai itu bisa bernilai hingga 2.000 dolar AS sebagai suku cadang pengganti, namun dia menjualnya seharga 1.200 dolar AS agar cepat laku. Sayangnya, belum ada pembeli yang tertarik.

Jika Bachand tidak bisa menjualnya, satu-satunya pilihan adalah mengirimkannya ke pendaur ulang. Namun berbeda dengan Andrade, penawaran yang didapat Bachand justru bernilai minus 1.800 dolar AS. Artinya, dia harus membayar uang sebesar itu untuk menutupi biaya pengiriman bahan berbahaya dan upah pemrosesan baterai. "Ini adalah liabilitas. Tidak ada yang membayar saya untuk ini, saya malah harus membayar untuk membuangnya," keluh Bachand.

Pandangan berbeda datang dari raksasa otomotif seperti General Motors (GM). J.B. Straubel selaku pendiri dan CEO Redwood Materials, perusahaan daur ulang baterai besar di AS, merasa optimistis. "Setiap tahun dan setiap bulan yang berlalu, proses ini menjadi lebih ekonomis dan kompetitif," ujarnya. GM sendiri memiliki volume limbah pabrik yang besar, sehingga mereka dapat mengoptimalkan logistik pengiriman dan mengubah daur ulang menjadi sumber pendapatan.

Namun bagi tempat rongsokan kecil yang tidak memiliki skala ekonomi seperti GM, situasinya sangat sulit. Emil Nusbaum dari Automotive Recyclers Association menjelaskan bahwa membongkar mobil listrik untuk mencari keuntungan jauh lebih menantang dibanding mobil konvensional. Mobil listrik tidak memiliki mesin dan transmisi rumit yang biasanya menjadi komponen paling mahal untuk dijual kembali.

Masalah ini diprediksi akan memburuk seiring meningkatnya adopsi kendaraan listrik di masa depan. Selain itu, tren industri kini beralih ke baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang lebih murah karena tidak menggunakan nikel dan kobalt. "Sayangnya, hampir tidak ada nilai ekonomis dalam mendaur ulang besi fosfat," ungkap David Klanecky, CEO Cirba Solutions.

Untuk mengatasi penumpukan limbah ini, negara bagian Colorado mengesahkan undang-undang baru musim panas ini. Aturan tersebut membebankan tanggung jawab daur ulang baterai EV kepada produsen yang menjualnya, seperti Tesla atau GM. Jika baterai telantar di tempat rongsokan, pabrikan wajib mengambil dan mendaur ulangnya dengan biaya sendiri, sebuah langkah yang didukung oleh kelompok lingkungan hingga asosiasi otomotif.

// TOPICS
#mobil_listrik #daur_ulang #industri_otomotif #baterai_ev #bisnis_internasional #lingkungan
Jurnalis Politik & Ekonomi Senior

Bambang telah menghabiskan dua dekade terakhir meliput dunia politik dan ekonomi Indonesia. Dari gedung DPR hingga Istana Negara, ia telah menyaksikan dan melaporkan peristiwa-peristiwa penting yang membentuk negeri ini. Tulisannya tajam, mendalam, dan selalu mengedepankan fakta serta analisis yang jernih bagi pembaca Kabayan News.