Indonesia Stock Exchange (IDX) atau Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadapi tantangan besar dalam mengedukasi investor ritel. Edukasi ini dinilai sangat krusial guna mengubah pola pikir sebagian masyarakat yang masih mengharapkan kekayaan instan melalui instrumen saham di pasar modal.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari RRI, istilah mental spekulatif seperti "cacing-cacing, naga-naga" masih menjadi fenomena yang kerap membuat investor ritel mengalami kerugian besar atau boncos. Selain itu, kebiasaan FOMO atau Fear of Missing Out juga menjadi batu sandungan utama bagi para investor pemula di Tanah Air.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) atau IDX Bali, I Gusti Agus Andiyasa mengakui bahwa pihaknya tidak hanya sekadar fokus mengejar peningkatan angka Single Investor Identification atau SID. IDX Bali memandang edukasi sebagai fondasi penting untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman investor ritel secara menyeluruh.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMengutip keterangan dari I Gusti Agus Andiyasa, "Ketika masuk ke pasar modal harus melakukan analisa, sebelum melakukan keputusan berinvestasi". Hal tersebut disampaikannya kepada awak media di Denpasar.
Sebagai otoritas pengatur, BEI menjalankan tugas berjenjang untuk menarik minat masyarakat, mulai dari tahap pengenalan hingga menyarankan investor agar terus belajar dan memantau keputusan investasinya. Langkah ini diharapkan mampu menjaga portofolio investor agar tetap aman dan bertumbuh positif.
Terkait perkembangan jumlah investor, IDX Bali menargetkan pertumbuhan sekitar 20 persen setiap tahunnya. Berdasarkan data terkini, jumlah investor di pasar modal Indonesia hampir menyentuh angka 30 juta dengan tambahan sekitar 9 juta investor baru, sementara di Bali sendiri jumlahnya telah mencapai 420 ribu investor atau sekitar 10 persen dari total penduduk.
Menariknya, komposisi investor saat ini didominasi oleh kalangan usia di bawah 30 tahun yang mencakup lebih dari 50 persen total investor di Indonesia. Bahkan, kalangan pelajar Sekolah Menengah Atas di Bali menunjukkan antusiasme tinggi untuk mengenal dunia investasi sejak dini.
Menutup keterangannya, I Gusti Agus Andiyasa berharap langkah edukasi dini ini dapat memberikan efek domino yang positif di masa depan. "Dan kita harapkan ke depannya efek dominonya tidak dirasakan sekarang, tetapi saat mereka bekerja dan memiliki pendapatan lebih banyak, artinya mereka bisa lebih besar modalnya untuk berinvestasi di pasar modal".