Krisis ekonomi Iran semakin parah pada paruh pertama tahun 2026 setelah kombinasi sanksi internasional dan blokade laut Amerika Serikat melumpuhkan ekspor minyak negara tersebut. Pembatasan akses pasar global membuat ekonomi domestik runtuh di tengah salah urus pemerintah dan korupsi yang merajalela.
Berdasarkan laporan resmi, tingkat inflasi tahunan melompat drastis hingga menyentuh angka 88,6 persen, sementara sebagian besar warga kini hidup di bawah garis kemiskinan. Melonjaknya harga kebutuhan pokok seperti telur dan daging membuat jutaan keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeNilai tukar mata uang rial mengalami kejatuhan terburuk sepanjang sejarah dengan diperdagangkan pada kisaran 1.750.000 hingga 1.810.000 rial per satu dolar AS. Situasi keuangan negara semakin goyah setelah sejumlah bank besar mengalami kekrutatan dan terpaksa digabungkan ke lembaga keuangan lain.
Menurut pengamatan awak media, tekanan domestik memuncak ketika ribuan pekerja dan pensiunan turun ke jalan menggelar aksi protes menuntut perbaikan kesejahteraan. Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Pezeshkian bahkan dilaporkan kesulitan membayar gaji aparat keamanan akibat defisit anggaran yang membengkak.
Pemerintahan Iran terpaksa mengandalkan impor bantuan pangan kemanusiaan dari berbagai negara tetangga serta membuka kerja sama dagang alternatif untuk meredam bencana kelaparan. Analis menilai masa depan stabilitas rezim kini berada di ujung tanduk menyusul tingkat kemarahan publik yang mencatat rekor tertinggi.