Penutupan Selat Hormuz selama lima bulan terakhir memaksa negara Teluk mengandalkan jalur udara untuk mendatangkan pasokan makanan dan kebutuhan rumah tangga. Kondisi tersebut memicu kenaikan biaya logistik yang signifikan dan berdampak langsung pada tingkat inflasi di kawasan tersebut.
Berdasarkan analisis Kabayan News, jalur perairan sempit yang terletak di antara Iran dan Oman ini sebelumnya menjadi jalur utama bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Sejak Maret, rute perdagangan komersial tersebut lumpuh total akibat konflik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKepala Energi dan Logistik di Al Habtoor Research Centre di Dubai, Mohamed Shadi menjelaskan bahwa Selat Hormuz merupakan saluran ekonomi dominan bagi perekonomian global, terutama bagi importir di Asia dan Eropa. Menurutnya, kerugian terbesar justru ditanggung oleh negara-negara pembeli dan penjual kargo di kawasan Teluk.
Sebagian besar kebutuhan pokok seperti makanan yang diimpor oleh Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi biasanya diangkut menggunakan kapal laut. Namun, pengalihan pengiriman melalui jalur udara memicu lonjakan harga barang secara drastis.
Associate Professor Administrasi Bisnis di University of Southern California, Shon Hiatt mengungkapkan bahwa publik selama ini hanya berfokus pada dampak krisis terhadap harga minyak dunia. "Sebagian besar perhatian tertuju pada minyak karena berdampak langsung pada kita, padahal minim laporan mengenai dampak nyata pada barang kebutuhan rumah tangga dan makanan bagi negara-negara tersebut," ujarnya.
Perusahaan pelayaran global seperti Maersk langsung merespons situasi krisis ini dengan memberlakukan biaya tambahan darurat untuk kargo menuju kawasan Teluk pada pekan-pekan pertama. Meskipun angkutan udara membantu memindahkan kargo bernilai tinggi seperti obat-obatan dan elektronika, moda transportasi tersebut tidak mampu mengangkut volume besar seperti gandum atau bahan bangunan.
Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi melaporkan bahwa sejumlah kapal mereka terkena serangan misil dan drone sejak perang dimulai, sementara Qatar kehilangan sebagian kapasitas ekspor gas alam akibat serangan fasilitas Ras Laffan. Sejumlah kargo bahkan tetap menjadi sasaran serangan saat berlayar di laut.
Lonjakan biaya pengiriman dan gangguan pasokan membuat para ekonom merevisi proyeksi inflasi di negara-negara Dewan Kerjasama Teluk. Oxford Economics Middle East menaikkan perkiraan inflasi 2026 untuk seluruh enam negara anggota, dengan Bahrain mencatatkan kenaikan tertinggi mendekati satu poin penuh.