Ribuan warga Pakistan memadati jalan-jalan utama di berbagai kota besar untuk menggelar demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak serta kebijakan ekonomi pemerintah. Berdasarkan laporan media internasional, kemarahan publik memuncak akibat lonjakan harga kebutuhan pokok dan tarif BBM yang dipicu oleh tekanan kebijakan internasional.
Aksi unjuk rasa tersebut digalang oleh partai Islam garis keras Jamaat-e-Islami dalam merespons kebijakan pungutan cukai minyak baru serta inflasi meroket. Menurut analisis awak media, tekanan ekonomi akibat konflik global turut memperparah krisis energi di negara Asia Selatan tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePemimpin Jamaat-e-Islami, Hafiz Naeemur Rehman melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Perdana Menteri Shehbaz Sharif serta intervensi lembaga keuangan internasional. "Pemerintahan ini terlibat dalam kekacauan yang sama sehingga pungutan ini tidak dapat diterima," ujarnya dalam orasinya di hadapan massa pendukung.
Demonstrasi besar ini melumpuhkan arus lalu lintas di sejumlah wilayah strategis seperti Karachi, Lahore, Peshawar, Quetta, Islamabad, Rawalpindi, hingga Abbottabad. Massa pengunjuk rasa membawa berbagai atribut penolakan serta menuntut pemerintah segera memberikan keringanan ekonomi bagi masyarakat kecil.
Pemerintahan Shehbaz Sharif sebelumnya rutin menyesuaikan harga bahan bakar menyusul disrupsi pasokan minyak global akibat ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz. Kondisi tersebut mendorong harga bensin dan solar melonjak drastis hingga mencatatkan rekam jejak kenaikan tertinggi kedua di tingkat global.
Gelombang aksi protes diprediksi akan terus berlanjut dengan rencana aksi duduk di depan kantor pemerintahan daerah pada akhir pekan ini. Pihak penyelenggara menegaskan aksi tersebut merupakan bagian awal dari rangkaian perlawanan panjang demi memperjuangkan hak-hak kesejahteraan rakyat.