Pasar properti Inggris pada Juli 2026 menunjukkan performa yang stabil meski diiringi tantangan likuiditas dan lonjakan suku bunga KPR yang menekan sentimen pembeli. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, dua laporan sentimen terbaru yang dirilis oleh Royal Institution of Chartered Surveyors (RICS) serta perusahaan proptech Sprift mengonfirmasi bahwa sektor perumahan belum mengalami kejatuhan, tetapi aturan main kini menjadi jauh lebih ketat.
"Pasar properti belum runtuh, namun kondisinya menjadi jauh lebih kurang ramah bagi para pelaku," demikian kutipan dari laporan gabungan industri yang menyoroti dinamika transaksi real estat terkini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMengutip laporan dari Sprift Market Intelligence Report, aktivitas pasar sepanjang Juli 2026 mencatat kenaikan daftar properti baru atau new listings sebesar 2,6 persen menjadi 209.941 unit. Sementara itu, penjualan yang disepakati atau sales agreed tumbuh tipis sebesar 1,1 persen ke angka 114.561 unit. Kendati demikian, tingkat konversi penjualan melambat secara bertahap sejak rekor puncak November di angka 69,7 persen dan kini berada pada posisi 54,6 persen secara nasional.
Sejalan dengan data tersebut, survei pasar perumahan residensial dari RICS menunjukkan arus properti baru yang masuk ke pasar mulai stabil pada Juli. Indikator instruksi vendor baru mencatat keseimbangan bersih sebesar -4 persen, jauh membaik dibandingkan catatan bulan Juni yang berada di angka -23 persen. Meski begitu, para pengamat menilai pasokan properti baru tetap berada dalam batas yang relatif terbatas.
Tekanan terhadap permintaan pembeli sebagian besar dipicu oleh kenaikan tajam suku bunga pinjaman atau KPR. Berdasarkan catatan industri, suku bunga tetap dua tahun melonjak hingga 5,62 persen pada Juli, naik signifikan dari posisi 4,83 persen pada Februari lalu, sehingga berdampak langsung pada tingkat kepercayaan konsumen.
Perbedaan tren di berbagai wilayah di Inggris juga terpantau semakin melebar tahun ini menurut analisis Kabayan News. CEO Sprift Matt Gilpin mengungkapkan bahwa disparitas regional saat ini merupakan yang paling lebar sepanjang tahun berjalan, di mana wilayah Skotlandia memimpin tingkat konversi tertinggi sebesar 77 persen, sementara London tertinggal jauh di angka 39,4 persen.
Sementara itu, Kepala Ekonom RICS Simon Rubinsohn menyatakan bahwa pasar perumahan secara keseluruhan masih berada dalam fase tertahan akibat kombinasi faktor geopolitik, iklim politik domestik, serta beban biaya pembiayaan KPR. Keadaan ini dinilai membuat para pengembang properti memilih langkah bersikap lebih hati-hati dalam ekspansi lahan maupun proyek pembangunan baru.