Persaingan bisnis antara dua platform pasar prediksi ternama, Kalshi dan Polymarket, semakin memanas dan mengarah pada konflik personal yang tajam. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa Kalshi diduga membantu mengarahkan FBI untuk melakukan penggerebekan di apartemen pendiri sekaligus CEO Polymarket, Shayne Coplan, pada November 2024 lalu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Sebelum penggerebekan terjadi, para pengacara Kalshi dilaporkan telah bertemu dengan jaksa di Manhattan untuk memaparkan kekhawatiran mereka terkait operasional Polymarket. Pengacara Kalshi membeberkan detail cara kerja platform rivalnya tersebut, termasuk bagaimana pengguna dari Amerika Serikat diduga masih bisa mengakses pasar Polymarket meskipun ada pembatasan resmi.
Tak lama setelah pertemuan tersebut, agen FBI mendobrak masuk ke apartemen Shayne Coplan pada 13 November 2024 dini hari. Penggerebekan ini merupakan bagian dari penyelidikan intensif terkait dugaan bahwa Polymarket mengizinkan warga Amerika Serikat bertaruh secara ilegal di platform mereka.
Meski Coplan sempat menyebut tindakan FBI tersebut sebagai bentuk balasan politik dari pemerintahan Joe Biden, di internal perusahaan ia dan jajaran eksekutif Polymarket yakin Kalshi berada di balik pergerakan pihak berwenang. Eksekutif Polymarket bahkan menduga ada pihak dari Kalshi yang membuntut Coplan dan memberi tahu jurnalis saat agen federal tiba di lokasi.
Juru bicara Kalshi, Elisabeth Diana, membantah keras tuduhan tersebut dan menyebut keterlibatan Kalshi dalam penggerebekan FBI sebagai "kebohongan mutlak". Diana mengklaim bahwa Kalshi baru mengetahui penggerebekan itu melalui media dan menegaskan bahwa Polymarket menunjukkan "tingkat paranoia yang sangat aneh".
Perseteruan kedua startup asal New York ini mencerminkan persaingan sengit untuk merebut posisi puncak dalam industri pasar prediksi yang sedang berkembang pesat. Kedua platform tersebut memungkinkan pengguna melakukan taruhan pada berbagai hal, mulai dari ramalan cuaca, peristiwa geopolitik, hingga hasil pertandingan olahraga.
Saat ini, kedua perusahaan juga harus menghadapi berbagai tantangan hukum dan tekanan regulasi dari pihak berwenang. Kalshi dan Polymarket tengah menghadapi gugatan dari beberapa jaksa agung negara bagian yang menilai produk prediksi olahraga mereka menyerupai perjudian ilegal, sementara Commodity Futures Trading Commission (CFTC) terus mengawasi ketat operasional industri ini.