Sebagaimana diwartakan oleh The Star, nilai tukar ringgit Malaysia berhasil menutup pekan ini pada jalur yang kuat terhadap dolar AS meskipun imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat mengalami kenaikan.
Mata uang lokal tersebut mendapatkan sokongan dari kenaikan imbal hasil di Malaysia serta meningkatnya kekhawatiran investor bahwa intervensi pasar obligasi AS baru-baru ini dapat membebani pergerakan mata uang greenback.
Berdasarkan laporan pasar valas, ringgit tercatat menguat ke posisi 4,0365 per dolar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level 4,0425.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut global strategist Quintex Intel, Stephen Innes, langkah-langkah intervensi tersebut berpotensi mengikis kepercayaan investor terhadap aset-aset AS serta memberikan tekanan lanjutan pada dolar.
Sementara itu, chief economist Bank Muamalat Malaysia Bhd, Dr Mohd Afzanizam Abdul Rashid, berpendapat bahwa pemerintah AS seharusnya lebih berfokus pada upaya meningkatkan pendapatan dan menekan pengeluaran fiskal.
Selain terhadap dolar AS, ringgit secara umum juga mencatatkan penguatan tipis terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya seperti yen Jepang, poundsterling Inggris, dan euro di akhir pekan.