Strategi SEO Google tidak lagi cukup untuk memenangkan pelanggan di era kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity. Sebagian besar pengguna internet kini beralih menggunakan mesin pencari berbasis generatif AI yang langsung menyajikan ringkasan informasi tanpa menampilkan deretan tautan tradisional.
Berdasarkan analisis Kabayan News, mesin pencari AI menyusun jawaban berdasarkan liputan media massa independen atau earned media. Perusahaan riset Gartner memprediksi anggaran untuk Public Relations dan media berbayar akan berlipat ganda dalam waktu dekat karena preferensi AI terhadap konten editorial terverifikasi.
"Mesin pencari memiliki hierarki editorial, dan situs web Anda berada di posisi paling bawah karena Anda dapat mengklaim apa saja di sana," ujar eksekutif Channel V Media, Kieran Powell, sebagaimana dikutip dari laporan Entrepreneur.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePowell menjelaskan bahwa sekitar 63 persen jawaban ChatGPT bersumber dari media tradisional yang telah melewati proses verifikasi jurnalis dan editor. Hal ini membuat upaya kehumasan menjadi satu-satunya saluran pemasaran yang tidak dapat dibeli, diotomatisasi, atau diterbitkan secara mandiri oleh perusahaan.
Perusahaan yang hanya mengandalkan siaran pers mandiri tanpa strategi hubungan media yang matang cenderung diabaikan oleh algoritma AI. Oleh karena itu, perusahaan disarankan untuk mengevaluasi mitra PR berdasarkan kemampuan strategi narasi alih-alih sekadar jumlah kliping berita atau daftar koneksi media.
Dengan perubahan lanskap digital ini, kesuksesan pemasaran diukur dari bagaimana mesin pencari AI mendeskripsikan sebuah merek sesuai dengan posisi yang diinginkan perusahaan. Pergeseran ini menuntut para pelaku bisnis untuk memprioritaskan kredibilitas eksternal demi memenangkan persaingan di ranah digital.