China menahan impor minyak mentah untuk mengimbangi penurunan pasokan dari Timur Tengah akibat konflik Iran dan penutupan Selat Hormuz.
Berdasarkan analisis Kabayan News, negara importir minyak terbesar di dunia ini mencatatkan kedatangan 8,41 juta barel per hari pada Juli, meningkat dari posisi terendah dekade ini sebesar 7,12 juta barel per hari pada Juni, namun masih 24,3 persen di bawah pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKonflik bermula ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu, memicu eskalasi militer hingga Selat Hormuz tertutup total bagi jalur distribusi energi global.
Sebagaimana dilaporkan oleh analis komoditas Kpler, total impor minyak Asia pada Juli tercatat mencapai 22,82 juta barel per hari atau merosot sekitar 4 juta barel per hari dari rata-rata sebelum konflik.
Lonjakan harga minyak mentah berjangka Brent hingga menyentuh level tertinggi dalam empat tahun sebesar 126,41 dolar AS per barel turut mendorong pembatasan impor oleh kilang-kilang di China.
Dengan cadangan strategis minyak mentah diperkirakan mencapai setidaknya 1,2 miliar barel, China memiliki fleksibilitas untuk terus menekan impor dan mengandalkan persediaan domestik dalam jangka panjang.