Ekonomi global bergerak semakin dalam menuju proteksionisme seiring langkah kekuatan besar memprioritaskan kepentingan domestik, mengancam daya saing ekspor Indonesia jika tidak diantisipasi secara dini.
Berdasarkan pengamatan redaksi Kabayan News, mantan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan bahwa ketegangan geopolitik membentuk ulang perdagangan internasional, di mana negara-negara besar menerapkan hambatan perdagangan guna melindungi industri domestik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Apa yang kita lihat sekarang adalah pergeseran menuju proteksionisme berlebihan, dan masalahnya adalah tidak semua negara menyadari perubahan ini lebih awal sehingga terlambat mengantisipasi dampaknya," ujar Enggartiasto dalam diskusi Ruang Literasi Kaliurang di Sleman, Yogyakarta.
Pernyataan tersebut muncul di tengah kebijakan Amerika Serikat di bawah kepintahan Presiden Donald Trump yang mengusung agenda America First melalui tarif serta pembatasan impor untuk menekan defisit perdagangan.
Dari analisis awak media Kabayan News, langkah serupa juga diadopsi oleh Uni Republik serta China guna melindungi sektor strategis mereka dari persaingan luar negeri di tengah ketidakpastian geopolitik.
Enggartiasto mengenang tekanan serupa sewaktu menjabat sebagai menteri di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, tatkala Indonesia berisiko kehilangan akses preferensial General System of Preferences ke pasar Amerika Serikat.
Ia menuturkan bahwa koordinasi lintas kementerian, dunia usaha, badan usaha milik negara, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington menjadi kunci dalam merumuskan strategi diplomasi perdagangan yang efektif.
Pendiri Ruang Literasi Willy Aditya menilai pengalaman Enggartiasto memberikan pelajaran penting bagi pembuat kebijakan dalam menavigasi dinamika ekonomi global yang semakin tidak pasti melalui pengurangan ketergantungan energi impor.