Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menegaskan posisi strategis ASEAN yang menolak keras wilayah Asia Tenggara dijadikan arena rivalitas kekuatan besar antara Amerika Serikat dan China. Penegasan tersebut disampaikan dalam pidato peringatan HUT ke-59 ASEAN di Jakarta pada Sabtu.
"ASEAN telah menegaskan kawasan kita tidak boleh menjadi arena bagi rivalitas kekuatan besar, pun ASEAN tidak akan memilih kubu," ujar Sugiono di hadapan para diplomat asing. Ia menambahkan bahwa orientasi utama blok regional ini senantiasa berpihak pada kesejahteraan, keamanan, serta masa depan masyarakat di kawasan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMengutip laporan awak media Kabayan News, eksistensi ASEAN sebagai ekonomi terbesar kelima di dunia tetap berjalan stabil di tengah hantaman ketegangan geopolitik global. Fokus utama organisasi beranggotakan 11 negara ini terletak pada jaminan ketahanan pangan dan energi daripada sekadar mengejar kesepakatan dagang semata.
Sugiono memaparkan bahwa kekuatan terbesar blok Asia Tenggara terletak pada kapasitas merangkul berbagai negara besar maupun kecil ke meja perundingan melalui dialog konstruktif. Prinsip dasar tersebut diatur dalam Treaty of Amity and Cooperation yang mengikat ASEAN bersama puluhan negara mitra termasuk Washington dan Beijing.
Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn turut memperkuat pandangan serupa dengan menyebut perjanjian damai tersebut sebagai fondasi kokoh hubungan antarnegara. Berdasarkan pengamatan redaksi Kabayan News, kerja sama ekonomi tetap berjalan erat dengan kedua negara adidaya meski bayang-bayang tarif perdagangan Amerika Serikat serta investasi infrastruktur China terus membayangi kawasan.