Kebijakan asimilasi ketat diberlakukan Presiden Xi Jinping di dalam negeri China bersamaan dengan langkah agresif memperluas dominasi geopolitik di kancah internasional.
Berdasarkan pengamatan redaksi, langkah strategis tersebut dijalankan di tengah perhatian dunia yang terpecah akibat berbagai krisis global seperti konflik di Ukraina, Gaza, dan Iran.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKebijakan penyatuan etnis atau sinifikasi melalui undang-undang baru memaksa kelompok minoritas seperti warga Tibet dan Uighur mengikuti budaya mayoritas Han.
Dari analisis awak media, tekanan domestik ini mencerminkan ambisi besar sang pemimpin untuk menciptakan populasi yang patuh sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai tokoh paling berpengaruh sejak era Mao Zedong.
Secara global, China juga meningkatkan ketegangan maritim di Laut China Selatan, mendekati Taiwan, serta menantang dominasi Amerika Serikat dalam sektor teknologi kecerdasan buatan.
Pertemuan tingkat tinggi mendatang dengan Donald Trump di Washington diprediksi menjadi momentum penting bagi Beijing untuk terus mengungguli posisi tawar Washington dalam perlombaan global abad ini.