Berdasarkan laporan yang dikutip dari AP News, jauh sebelum AC modern mendominasi, masyarakat di wilayah barat daya Amerika Serikat mengandalkan kreativitas tinggi untuk bertahan di tengah cuaca panas yang menyengat.
Sejarah mencatat bahwa prinsip dasar pendinginan evaporatif telah digunakan sejak ribuan tahun lalu oleh peradaban kuno, di mana angin diembuskan melalui air di dalam wadah tanah liat. Konsep tersebut kemudian disempurnakan di Amerika Serikat pada awal abad ke-20 oleh Oscar Palmer di Arizona pada tahun 1908.
Cara kerja alat ini tergolong sederhana namun efektif. Kipas menarik udara panas segar melalui bantalan berpori vertikal yang dibasahi air, yang kemudian menguap untuk mendinginkan sekaligus melembapkan udara sebelum dialirkan ke dalam ruangan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut Eric Verpolegen selaku pendiri CoolVeg, efektivitas alat ini sangat bergantung pada tingkat kelembapan udara. "Jika cuacanya sangat kering, seperti di Arizona, Anda akan mendapatkan efek pendinginan yang jauh lebih besar," ujarnya sebagaimana diwartakan.
Di sisi lain, Ankit Kalanki dari lembaga nirlaba RMI menyatakan bahwa teknologi ini menawarkan solusi berbiaya rendah dan hemat energi di kawasan beriklim kering yang belum terjangkau AC standar. Meskipun kurang efektif di wilayah lembap, inovasi hibrida kini terus dikembangkan untuk menggabungkan pendingin evaporatif dengan pengendali kelembapan.
Para ahli menilai bahwa di tengah tantangan perubahan iklim dan peningkatan suhu global, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan seperti swamp cooler menjadi semakin krusial guna menghindari lonjakan emisi gas rumah kaca akibat penggunaan AC konvensional secara berlebihan.