Perkembangan teknologi kecerdasan buatan dan otomatisasi kini merambah ke industri pelayanan publik, termasuk kehadiran robot pelayan di bar maupun restoran. Namun, sebuah fenomena unik sekaligus membingungkan muncul ketika mesin-mesin otomatis tersebut mulai menyodorkan opsi pemberian tip kepada para pelanggan.
Sebagaimana diwartakan oleh BBC, pemandangan ini dapat ditemukan di berbagai tempat seperti bar koktail otomatis The Tipsy Robot di Las Vegas, kafe robotik Artly Coffee di New York, hingga kios bandara. Saat melakukan pembayaran, konsumen kerap dihadapkan pada layar digital yang meminta tambahan persentase biaya jasa atau tip.
Bagi sebagian orang, aturan tradisional mengenai pemberian tip menjadi buyar ketika berhadapan dengan mesin. Pasalnya, tidak ada kejelasan transparan mengenai siapa pihak yang benar-benar memegang dan menikmati uang tip yang diberikan kepada robot tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut Holona Ochs, seorang profesor ilmu politik di Lehigh University sekaligus rekan penulis buku Gratuity, terdapat kekhawatiran bahwa celah hukum dimanfaatkan oleh oknum pengusaha. Standar hukum resmi yang mengatur kepemilikan atas tip untuk robot hingga kini belum ditegakkan secara tegas.
"Kita punya alasan untuk percaya bahwa beberapa pengusaha yang tidak bertanggung jawab mengambil tip robot untuk diri mereka sendiri," ujar Ochs sebagaimana dikutip dari laporan BBC.
Di sisi lain, sejumlah pengembang teknologi mengeklaim bahwa pendapatan tambahan dari mesin tetap disalurkan sepenuhnya kepada staf manusia yang bekerja di balik layar. Pihak pengelola menegaskan bahwa inovasi otomatisasi ini hadir untuk membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja, bukan semata-mata untuk memangkas upah manusia demi keuntungan korporasi.
Sementara itu, pakar psikologi konsumen dari Cornell University, Michael Lynn, berpendapat bahwa sebagian besar alasan psikologis di balik pemberian tip—seperti apresiasi terhadap pelayanan personal atau rasa bersalah—tidak berlaku untuk mesin. Kendati demikian, sebagian konsumen tetap memberikan tip jika mereka mengetahui uang tersebut pasti sampai ke tangan pekerja manusia.
Para ahli menilai bahwa masa depan dari budaya tip robotik ini sangat bergantung pada respons dan keputusan para konsumen ke depannya. Jika penolakan publik terus menguat, bukan tidak mungkin praktik permintaan tip oleh mesin ini perlahan akan ditinggalkan oleh para pelaku bisnis.