Harga minyak mentah dunia bergerak merangkak naik menyusul memudarnya harapan perdamaian abadi antara Amerika Serikat dan Iran akibat pengajuan enam syarat dari Teheran. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, lonjakan harga energi ini langsung merespons ketegangan politik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah setelah Presiden Donald Trump memberikan reaksi tegas atas tuntutan tersebut.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat berada pada level 87,72 dolar Amerika Serikat per barel, sementara West Texas Intermediate diperdagangkan pada posisi 82,13 dolar Amerika Serikat per barel. Eskalasi ini terjadi setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menuntut Iran membayar ganti rugi atas kerusakan akibat perang selama lima dekade. "Kami akan meminta uang untuk kerusakan yang mereka timbulkan selama periode 50 tahun," ujar Trump di Gedung Putih, seraya menegaskan bahwa Teheran harus bertanggung jawab atas kerugian dan korban jiwa di Lebanon, Suriah, Yemen, serta Gaza.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDi sisi lain, pemerintah Iran menyatakan tengah mematangkan kesepakatan bersama Oman terkait pengelolaan bersama Selat Hormuz. Teheran menegaskan bahwa jalur strategis tersebut akan terus ditutup hingga Washington memenuhi seluruh syarat yang diajukan. Analis pasar utama KCM Trade, Tim Waterer, menilai terdapat perbedaan pandangan yang sangat lebar antara kedua negara terkait bentuk kesepakatan damai yang diinginkan.
Sementara itu, para ahli strategi komoditas ING menyebutkan bahwa risiko kenaikan harga minyak masih terbuka lebar akibat minimnya progres diplomasi. Kendati demikian, sejumlah kapal tanker dilaporkan tetap beroperasi melewati Selat Hormuz dengan mematikan transponder mereka demi menjaga pasokan ekspor tetap mengalir di tengah situasi turbulen.