Krisis Selat Hormuz memicu volatilitas harga minyak mentah dunia yang dinilai sejumlah kalangan sebagai rekayasa pasar semata. Pengamat ekonomi Richard Murphy menyebut klaim mengenai kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran hanyalah ilusi untuk menjaga kestabilan bursa saham.
Berdasarkan laporan The New York Times, pejabat tinggi keamanan nasional Iran menyampaikan syarat tegas agar jalur pelayaran vital tersebut dapat dibuka kembali. Iran menuntut pencabutan blokade laut serta sanksi ekonomi dari Amerika Serikat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeNamun, pemerintah Amerika Serikat belum menyetujui persyaratan tersebut sehingga arus pengiriman minyak dari Teluk tetap lumpuh. Sebelum konflik memanas, rata-rata seratus tiga puluh kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari, sementara kini jumlahnya turun drastis di bawah sepuluh kapal per hari.
Pasar finansial global dituding mengabaikan fakta fundamental ini demi menghindari kepanikan ekonomi yang lebih luas. Berdasarkan analisis Richard Murphy, permainan psikologis pasar ini justru akan berujung pada kejatuhan ekonomi yang jauh lebih parah di masa depan.
Selain masalah pasokan minyak mentah, kapasitas kilang minyak global juga mengalami tekanan berat akibat konflik geopolitik serta kerusakan fasilitas pengolahan di kawasan Teluk dan Ukraina. Kondisi tersebut membuat harga bahan bakar minyak melonjak tajam melampaui pergerakan harga minyak mentah di pasaran.