Perang di Iran memicu lonjakan biaya utang dan menekan likuiditas pelaku usaha kecil menengah atau UMKM secara signifikan. Berdasarkan laporan Azets, konflik bersenjata tersebut mengubah proyeksi ekonomi global sekaligus mengerek naik beban pinjaman bagi sektor bisnis.
Kepala Penasihat Utang Azets, Mark Barrie menyatakan bahwa perang yang meletus sejak Februari tersebut memupus harapan penurunan suku bunga Bank of England. Pelaku usaha kini dihadapkan pada kenyataan pahit berupa pengetatan likuiditas dan penyusutan opsi pembiayaan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Ini masa sulit bagi bisnis UMKM karena berbagai tekanan bertambah menumpuk dan memicu tekanan marjin besar yang berpotensi memakan korban," ujar Mark Barrie sebagaimana dilaporkan Scottish Financial News.
Dari analisis Kabayan News, situasi tersebut memperparah beban operasional perusahaan setelah sebelumnya dihadapkan pada kenaikan iuran asuransi nasional, lonjakan upah minimum, serta mahalnya biaya energi. Sejumlah sektor seperti manufaktur, logistik, perhotelan, hingga konstruksi mencatatkan tingkat kerentanan paling tinggi.
Survei British Chambers of Commerce menunjukkan sekitar 80 persen perusahaan merasakan dampak langsung konflik Iran. Lonjakan harga energi, gangguan pengiriman global, serta kenaikan biaya bahan baku menjadi tantangan utama yang harus dihadapi para pelaku usaha dalam beberapa bulan mendatang.