Indeks utama Bursa Efek London, FTSE 100, ditutup melemah 38,59 poin atau 0,4% ke level 10.862,50 pada perdagangan Senin (10/8). Koreksi ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah global yang merespons ketegangan geopolitik baru di Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober tercatat naik ke level 86,35 dolar AS per barel, dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di posisi 83,40 dolar AS. Kenaikan tajam ini terjadi setelah Garda Revolusi Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz jika Amerika Serikat tidak memenuhi tuntutan kompensasi kerusakan perang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePresiden Amerika Serikat, Donald Trump, menanggapi ancaman tersebut dengan sikap dingin. Mengutip laporan Axios, Trump menyebut negosiasi dengan Iran saat ini hanya bersifat terbatas karena AS lebih memilih memantau inflasi tinggi yang melanda ekonomi Iran.
"Kami hanya melakukan negosiasi setengah hati dengan mereka. Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi besarnya dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang," ujar Trump dalam sebuah sambungan telepon.
Dari analisis Kabayan News, konflik di Selat Hormuz menjadi sentimen negatif utama bagi pasar ekuitas global. Direktur Investasi AJ Bell, Russ Mould, menegaskan bahwa eskalasi di Timur Tengah merupakan sumber kekhawatiran terbesar bagi pelaku pasar saat ini karena prospek penyelesaian damai yang masih jauh.
Sentimen negatif ini turut menekan saham-saham emiten properti akibat kenaikan imbal hasil obligasi. Emiten Vistry mencatatkan penurunan tajam sebesar 12% di indeks FTSE 250 menyusul laporan mengenai pemangkasan perlindungan asuransi kredit bagi para pemasoknya.
Di sisi lain, sektor energi justru mendapatkan keuntungan dari tren kenaikan harga minyak. Saham raksasa energi BP naik 1,4%, sementara Shell menguat 0,6% di tengah sentimen pasar yang cenderung menghindari aset berisiko (risk-off).