Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Pernyataan Kontroversial Pendeta AS,...
INTERNASIONAL

Pernyataan Kontroversial Pendeta AS, Sebut Basket Wanita Picu Transgender

By Dewi Lestari • 2 min read • 31 Juli 2026
Ilustrasi lapangan basket wanita yang menjadi sorotan usai pernyataan kontroversial pendeta Eric Conn

Ilustrasi lapangan basket wanita yang menjadi sorotan usai pernyataan kontroversial pendeta Eric Conn

Dunia maya di Amerika Serikat dihebohkan dengan sebuah pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh seorang tokoh agama sayap kanan. Eric Conn, yang dikenal sebagai pendeta di Refuge Church sekaligus pendiri New Christendom Press, secara terbuka mengaitkan eksistensi olahraga basket wanita dengan isu orientasi seksual dan identitas gender.

Melalui akun media sosial X miliknya, Conn menyebut bahwa kompetisi Women’s National Basketball Association atau WNBA menjadi sarang dari perilaku androgini serta homoseksualitas. Ia bahkan berargumen bahwa atmosfer dalam kompetisi olahraga tersebut dapat berujung pada kemunculan fenomena transgenderisme di tengah masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Conn untuk merespons sebuah unggahan mengenai kericuhan yang melibatkan pemilik bersama tim Seattle Storm, Celeste Keaton, dengan pendukung pemain basket Sophie Cunningham. Kericuhan itu bermula ketika Keaton diduga melontarkan kata-kata kasar kepada suporter yang membawa atribut kampanye terkait isu atlet transgender.

Kendati narasi miring tersebut ramai disuarakan oleh kelompok konservatif, data historis mencatat bahwa kehadiran atlet transgender di liga basket profesional wanita tersebut sangat minim. Layshia Clarendon tercatat sebagai satu-satunya mantan pemain non-biner yang terbuka di WNBA sebelum memutuskan gantung sepatu pada tahun 2024.

Topics
eric conn wnba transgender basket wanita amerika serikat berita internasional
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.