Satelit cermin raksasa yang dikembangkan perusahaan teknologi antariksa California, Reflect Orbital, kini menuai kritik tajam dari para pakar karena potensi ancaman bagi astronom, pilot, hingga satwa liar. Proyek ini melibatkan peluncuran satelit bernama Eärendil-1 yang dilengkapi cermin berukuran hampir 18 meter untuk memantulkan sinar matahari langsung ke titik spesifik di permukaan bumi.
Perusahaan tersebut telah mendapatkan izin dari Federal Communications Commission (FCC) untuk meluncurkan satelit uji coba tersebut. Rencananya, teknologi ini akan dikembangkan menjadi armada besar dengan 50.000 satelit guna meningkatkan hasil pertanian, efisiensi ladang surya, serta mendukung operasi pencarian dan penyelamatan di malam hari.
Berdasarkan data teknis, pantulan cahaya dari satelit ini diklaim mampu membuat area target empat kali lebih terang daripada bulan purnama. Di luar zona target, satelit ini diperkirakan akan terlihat seterang planet Venus di langit malam, yang dapat mengganggu pengamatan astronomis secara signifikan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBahaya nyata juga mengintai para pengguna peralatan optik, di mana pengamatan melalui teleskop berukuran 12 inci berisiko menyebabkan kerusakan mata permanen. Risiko ini disebut sebanding dengan dampak menatap matahari secara langsung saat terjadi gerhana, sehingga memicu kewaspadaan tinggi dari komunitas ilmiah global.
Risiko Gangguan Cahaya bagi Pilot dan Ekosistem
Selain ancaman terhadap mata, pilot penerbangan dan pengemudi kendaraan di malam hari dikhawatirkan mengalami kebutaan sesaat akibat sorotan cahaya yang bergerak. Paparan mendadak ini berisiko memicu kecelakaan fatal karena gangguan visual yang tidak terduga di ruang publik.
Biolog turut memberikan peringatan keras terkait gangguan ritme sirkadian pada manusia dan hewan akibat manipulasi siklus terang dan gelap alami. Perubahan pola cahaya ini dikhawatirkan memengaruhi migrasi satwa, pertumbuhan tanaman, hingga produktivitas fitoplankton di lautan yang menopang rantai makanan global.
Kritikus menyesalkan langkah perusahaan yang tetap melanjutkan proyek meski standar keamanan, mekanisme pemberitahuan publik, dan pertanggungjawaban belum diselesaikan. Minimnya transparansi terkait jadwal dan lokasi penggunaan layanan menjadi sorotan utama para ahli sebelum satelit dioperasikan secara penuh.
Para ilmuwan mendesak adanya aturan ketat dan koordinasi lintas sektor antara operator satelit dengan otoritas penerbangan serta komunitas terkait. Mereka menuntut prosedur pengamanan memadai guna mencegah dampak negatif dari penggunaan teknologi cermin antariksa yang mampu menghasilkan silau dengan intensitas tinggi.