Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Studi Psikologi Ungkap Dampak...
INTERNASIONAL

Studi Psikologi Ungkap Dampak Negatif Kebiasaan Overthinking, Berbeda di AS dan Jepang

By Dewi Lestari • 2 min read • 9 Agustus 2026
Ilustrasi seseorang sedang mengalami overthinking atau memikirkan pengalaman negatif

Ilustrasi seseorang sedang mengalami overthinking atau memikirkan pengalaman negatif

Studi psikologi terbaru mengungkapkan bahwa kebiasaan repetitif dalam memikirkan pengalaman buruk atau yang biasa disebut rumination terbukti berkaitan erat dengan penurunan kesejahteraan harian seseorang. Namun menariknya, dampak negatif tersebut ternyata tidak dirasakan secara sama di setiap negara, melainkan menunjukkan perbedaan signifikan antara masyarakat di Amerika Serikat dan Jepang.

Menurut penjelasan dari salah satu penulis studi yakni Danfei Hu selaku asisten profesor psikologi di University of York, kebiasaan tersebut secara umum memang cenderung membawa dampak buruk bagi kesehatan psikologis seseorang. Kendati demikian, kekuatan hubungan antara kebiasaan merenungi nasib sial dan penurunan tingkat kesejahteraan hidup tampak jauh lebih lemah apabila diamati pada individu berlatar belakang budaya Asia Timur dibandingkan orang-orang dari budaya Barat.

Sebagaimana dilaporkan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science, para peneliti menggunakan metode ecological momentary assessment untuk melacak perilaku emosional partisipan secara real-time melalui ponsel pintar. Melalui metode ini, ratusan mahasiswa dari perguruan tinggi di Washington, St. Louis, dan Tokyo diminta melaporkan kondisi perasaan serta tingkat kesejahteraan mereka secara berkala setiap harinya.

Berdasarkan analisis data harian yang dikumpulkan selama periode penelitian, terungkap bahwa tindakan merenungkan masalah secara terus-menerus memang konsisten memicu penurunan skor kesejahteraan pada seluruh partisipan. Kendati tingkat tekanan psikologis akut yang dirasakan cenderung serupa di kedua negara, dampak lanjutan terhadap kesejahteraan hidup secara keseluruhan tercatat lebih ringan bagi para mahasiswa di Jepang.

Para periset menilai bahwa perbedaan latar belakang budaya memegang peranan krusial dalam membentuk cara pandang individu saat memproses emosi yang tidak menyenangkan. Di kawasan Barat, individu sering kali menitikberatkan fokus pada sifat personal sehingga pikiran negatif kerap diinterpretasikan sebagai bentuk kegagalan diri, sementara budaya di sebagian wilayah Asia Timur memandang aspek psikologis secara lebih fleksibel.

Topics
psikologi kesehatan mental emosi negatif amerika serikat jepang penelitian
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.