Fantasy adalah genre fiksi spekulatif yang menghadirkan elemen supernatural atau magis dalam alur ceritanya. Genre fantasy sering membangun dunia dan makhluk imajinasi yang sama sekali lepas dari realitas, membuat pembaca atau penonton diajak menjelajahi batas-batas imajinasi tanpa batas.
Karakteristik utama fantasy adalah penggunaan sihir, makhluk gaib, dan dunia yang dibangun melalui worldbuilding. Penulis fantasy menciptakan aturan, budaya, dan sejarah untuk dunia fiksinya agar terasa hidup dan meyakinkan. Selain sihir, fantasy juga kerap terinspirasi dari mitologi dan cerita rakyat dari berbagai budaya di dunia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerbedaan fantasy dengan genre fiksi ilmiah terletak pada tingkat realisme dan penjelasan ilmiah. Fantasy membangun narasi yang tidak perlu berpegang pada hukum alam atau sejarah, sedangkan science fiction meskipun imajinatif tetap berusaha mempertahankan logika dan kemungkinan ilmiah. Namun, keduanya sama-sama membutuhkan suspensi ketidakpercayaan dari penikmatnya.
Sejarah fantasy telah ada sejak ribuan tahun lalu dalam bentuk mitologi dan epik kuno, seperti kisah Gilgamesh dan Enuma Elish. Karya-karya tersebut sudah memuat konflik kosmis antara kebaikan dan kejahatan yang menjadi ciri khas fantasy modern. Tradisi ini kemudian berkembang melalui sastra Yunani, Romawi, hingga pengaruh dari ajaran Plato dan teologi Kristen.
Perkembangan Fantasy dari Sastra Klasik hingga Era Modern
Perkembangan fantasy modern dimulai pada abad ke-19 melalui karya George MacDonald, yang dianggap sebagai bapak fantasy modern. Novel Phantastes (1858) dan The Princess and the Goblin (1872) menjadi fondasi genre ini dan sangat mempengaruhi penulis besar seperti J.R.R. Tolkien dan C.S. Lewis. Selain MacDonald, William Morris juga berkontribusi lewat novel The Wood Beyond the World dan The Well at the World's End.
Pada awal abad ke-20, fantasy mulai meraih audiens yang lebih luas berkat karya Lord Dunsany dan penulis lain seperti H. Rider Haggard serta Edgar Rice Burroughs. Mereka mempopulerkan subgenre lost world yang sangat digemari pada masa itu. Beberapa karya klasik anak-anak seperti Peter Pan dan The Wonderful Wizard of Oz juga turut memperkuat posisi fantasy di mata publik.
Selama bertahun-tahun, fantasy sering dianggap sebagai bacaan anak-anak karena banyak cerita fantasi awal ditujukan untuk pembaca muda. Namun, seiring waktu, karya seperti The Lord of the Rings membuktikan bahwa fantasy bisa dinikmati oleh semua kalangan dan memiliki kedalaman tematik yang serius.
Di luar dunia Barat, tradisi fantasy juga berkembang di berbagai budaya, seperti kisah Seribu Satu Malam dari dunia Islam, epos Hindu seperti Ramayana dan Mahabharata, serta cerita rakyat Tiongkok yang kaya akan elemen supranatural. Namun, di Tiongkok pada awal abad ke-20, genre supernatural sempat ditentang karena dianggap menghambat modernisasi dan sains.