Profil Kesultanan Buton mengulas perjalanan sejarah wilayah strategis di Kepulauan Sulawesi Tenggara yang bermula dari perkampungan kecil bernama Wolio.
Berdasarkan catatan sejarah, cikal bakal wilayah ini dipimpin oleh sistem pemerintahan tradisional berbentuk empat wilayah kecil atau Patalimbona sebelum bersatu menjadi Kerajaan Buton pada tahun 1332 M.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa eksistensi Pulau Buton telah tercatat sejak era kejayaan Nusantara, bahkan disebut oleh Patih Gajah Mada dalam Sumpah Palapa serta dalam naskah Kakawin Nagarakretagama.
Sebagaimana dilaporkan dalam berbagai sumber sejarah, kepemimpinan awal kerajaan ini sempat dipegang oleh dua ratu perempuan secara bergantian, yakni Ratu Wa Kaa Kaa dan Ratu Bulawambona.
Transformasi besar terjadi ketika kerajaan ini beralih menjadi bentuk kesultanan seiring masuknya ajaran Islam yang dibawa oleh ulama besar seperti Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani.
Mengutip laporan sejarah setempat, Raja keenam bernama Lakilaponto atau Halu Oleo resmi memeluk Islam dan dinobatkan menjadi sultan pertama bergelar Sultan Murhum.
Analisis awak media mendapati bahwa struktur kekuasaan Kesultanan Buton memiliki keunikan tersendiri karena ditopang oleh dua golongan bangsawan utama yaitu Kaomu dan Walaka.
Wewenang pemilihan sultan berada di tangan golongan Walaka, sementara sosok yang menduduki takhta wajib berasal dari golongan Kaomu melalui mekanisme pemilihan ketat.